forex bathin (dari Sumintar)

Forex Bukan Sekedar Sell dan Buy

Banyak yang salah melihat forex, forex hanya ditinjau dari sudut hitam putih, bukan dilihat dari nilai keilmuan yang ada didalamnya. Sebenarnya semua aspek kehidupan kita itu tidak terlepas dari hakekat trading forex yaitu untung dan rugi, kalau untung anda mau kalau rugi anda lari, hanya bedanya proses itu disingkat menjadi begitu pendek.

Bagi anda yang belum mencoba mungkin anda bilang susah karena mendapat cerita cerita negatip dari orang yang gagal, putus asa dan kecewa, bisnis forex itu begitu mudah dan saya sudah membuktikan bisa tanpa loss alias proft terus seperti yang saya tulis di artikel saya kemarin. Dan dari beberapa orang yang share dengan saya juga mengalami hal yang hampir sama yaitu selalu menang disaat trading demo, alis virtual. Tapi begitu dia main riil dan mengikutkan emosi dan persaan ternyata sedikit yang berhasil, ada apa dengan forex?

Jika Ingin Menguji Calon Manager Tangguh, Ujilah lewat Trading Forex

Percaya atau tidak, orang yang berhasil di bisnis forex: dia pasti memiliki pikiran yang tenang, sabar, teliti, tekun, cerdik, percaya diri, komitmen kuat, bertanggug jawab, bisa membaca pasar dan situasi, tidak mudah menyerah, memiliki strategi yang jitu, tangguh, berwawasan luas, sedikit bicara banyak kerj, tahan mererima tekanan tinggi, sedikit terori banyak praktek. Selalu mengavaluasi diri jika gagal dan salah, suka belajar dari keberhasilan orang lain.

Tahu dengan pasti kapan dia akan berinvestasi dan kapan dia harus menjual produknya. Tertip aturan dan selalu menaatinya, Bisa mengendalikan dan memanage emosinya dalam rangka kesukesan yang nyata.

Sebaliknya orang yang gagal di trading forex online adalah: dia pasti orang yang mudah menyerah, mudah putus asa, ceroboh, tidak mau membaca situasi , suka melanggar aturan, tidak bisa mengikuti irama kerja, keputusannya selalu salah (harusnya sell tapi buy), emosi tinggi (ingin menang saja), tidak sabar, mudah menyalahkan orang lain (forex itu judi), tidak bertanggung jawab, hanya ingin enaknya (profit) tapi tidak ingin susahnya (los), tidak mau belajar dari kesalahannya, tidak mau belajar dari kerberhasilan orang lain.

Dari dua catatan di atas maka jika saya sangat yakin anda akan mendapatkan manager yang tangguh, jika trading forexnya berhasil.

Sukses Trading Forex, Tolak Ukur Berhasil di Bisnis Online

Nah dari uraian di atas saya berkeyakinan juga bahwa jika bisnis online (juga bisnis apa saja yang lain) berhasil atau tidak anda perlu menguji lewat trading forex. Anda akan segera tahu tipe anda itu seorang profesional atau pecundang / penjudi. Lewat trading forex terutama yang real trading anda akan tahu dengan cepat tipe, karakter dan jati diri anda. Dengan demikian anda cocok sebagai pengusaha atau cukup dengan menjadi karyawan yang baik.

Prilaku Saya Sehari hari bisa tercermin di Bisnis Forex

Ternyata setelah mencoba trading forex secara real saya semakin tahu, bahwa selama ini saya banyak melakukan kesalahan (loss) di kehidupan nyata, saya ternyata sering berjudi dalam hidup, pinjam uang kartu kredit untuk kesenangan, untuk membeli barang konsuptif (loss), sering tidak berfikir jangka panjang, terlalu berani tanpa perhitungan dalam mengambil keputusan meskipun itu salah (loss). Terlalu berambisi dalam berinvestasi dan akhirnya saya jual kembali dengan harga murah (loss), sering tidak belajar dari kegagalan masa lalu (loss). Sering tidak memperhatikan aturan sehingga kena pinalti atau denda (loss), Sering tidak tepat waktu sehingga juga kena biaya keterlambatan (loss). Sering tidak menghargai waktu sehingga waktu hilang percuma (loss).

Mulai Sekarang saya harus Profit, dan Profit tidak harus Uang

Saya harus iklas memberi ilmu ke orang lain (profit), menyisihkan dana untuk berbagi dengan orang miskin (profit), meluangkan waktu yang cukup untuk anak anak dan istri (profit), memasksimalkan sisa waktu yang tinggal beberapa tahun (profit), meminta maaf kalau melakukan kesalahan dan berani mengoreksi diri (profit), dan selalu berdoa dan minta rejeki pada Tuhan (profit), agar hidup selalu bahagia dengan mensyukuri nikmat apapun kondisi kita saat ini (profit), Mencoba tidak menambah masalah baru (profit). Mencoba melunasi hutang yang masih menggunung (profit).

Tanpa kesimpulan

Belajar dari Film

BELAJAR TASAWUF DARI FILM MATRIX

Dari tulisan :Aina Al Qalby

Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiimi

The Oracle.

Ini bukan nama perusahaan software. Ini adalah nama seorang wanita tua di dunia Matrix. Ia hanyalah seorang tukang masak kue, gemuk, negro, perokok, tingal di sebuah apartemen kelas bawah dan memiliki beberapa murid anak kecil. Di film itu pun, ia hanya muncul sekali. Dengan percakapan yang sederhana, dan mengalir begitu saja. Sama sekali tidak tampak kelebihan dalam dirinya. Tapi dialah sosok mursyid di film ini. Saya terus terang agak heran, bagaimana film ini bisa bercerita demikian detil. Termasuk penggambaran sosok mursyid yang demikian akurat. Sehingga bila kita ingin mengetahui, seperti apa sih Mursyid itu? Bagaimana dia membimbing kita? Kita bisa mempelajari figur The Oracle. Waktu di lift menuju ruangan The Oracle, Neo dan Morpheus sudah bercakap-cakap dengan menarik. Neo: “Apakah Oracle ini adalah Oracle penubuwwah” Morpheus: “Ya, dia sangat tua. Dia sudah mengiringi kita sejak awal perlawanan (thd Matrix)” Neo: “Apa yang dia tahu? Segalanya?” Morpheus: “Dia akan berkata, bahwa dia mengetahui secukupnya.” Neo: “Dan dia tak pernah salah?” Morpheus: “Cobalah untuk tidak berpikir benar atau salah. She is a GUIDE, Neo. Dia dapat membantu kita untuk menemukan ….” Neo: “Dia menolongmu?” Morpheus: “Ya”. Neo: “Apa yang dikatannya padamu?” Morpheus: “Bahwa aku akan menemukan The One” Memang bila kita berhadapan dengan seorang mursyid, kita perlu menanggalkan sejenak parameter-parameter kita ttg benar dan salah. Karena itu bisa memerangkap kita. Kita ini seperti orang buta, sementara dia tidak buta. Bagaimana mungkin kita bisa menghakimi ceritanya ttg gajah? Sang mursyid pun, tidak akan mengajarkan kepada kita hukum-hukum kebenaran atau kesalahan. Dia hanya membimbing, agar kita dapat mengenali kebenaran. Dia akan berusaha untuk menjadikan setiap kita sebagai aktor utama dalam kehidupan ini. Selanjutnya Neo pun memasuki apartement Oracle dan menemukan banyak anak kecil yang sedang asyik bermain-main dengan ‘karomah’-nya. Ada yang main kubus yang seolah tak terikat hukum gravitasi. Ada pula yang sedang asyik membengkokkan sendok hanya dengan pikiran. Dikatakan, bahwa mereka adalah calon-calon potensial untuk menjadi The One. Saya lewati ini karena akan jadi tulisan terpisah. Setelah menunggu sejenak, Neo pun diundang untuk ke dapur menemui Oracle. Dia ternyata sedang asyik masak kue. Neo: “Apakah anda The Oracle?” The Oracle: “Binggo, tidak seperti yang kamu sangka bukan? Aku akan mempersilahkan kamu duduk, tapi jangan khawatir terhadap vas bunga itu” Neo: “Vas yang mana?” Ternyata kemudian Neo menyenggol vas bunga yang ada di sampingnya, hingga jatuh dan pecah. Kemudian Oracle berkata, “Vas yang itu.” Neo pun gugup, “I’m sorry…” The Oracle: “Sudah aku katakan jangan khawatir terhadap vas itu. Bagaimana kita bisa merubah sesuatu yang sudah ditetapkan?” Saya paling senang dengan adegan ini,saya geli melihat bagaimana cara seorang mursyid menunjukkan siapa dirinya. Karena Neo pada saat itu agak ragu, melihat Oracle yang seperti itu. Tapi yang membuat saya menyimpulkan Oracle lah sang Mursyid justru percakapan berikutnya yang saya sarikan sbb. The Oracle: “Kamu tahu mengapa Morpheus membawamu ke sini?” Neo pun mengangguk. The Oracle: “So… what do you think? Do you think you are The One?” Neo: “Honestly, I don’t know” The Oracle: “Aku akan beritahu kamu suatu rahasia. Menjadi The One adalah seperti jatuh cinta. Tak ada yang bisa memberitahumu, melainkan kamu sendiri yang tahu. So… you ready to know.” Neo: “Know what?” The Oracle: “That I’m going to tell you…” Neo: ” I am not The One” Begitulah sang Mursyid. Dia tahu apa yang terbaik buat saliknya. Oracle tahu, bahwa informasi Neo adalah The One telah membelenggu jiwanya. Sehingga tanpa sadar dia merasa spesial. Makanya Oracle mematahkan anggapan tsb dengan kalimat-kalimatnya yang menuntun. Neo sendirilah yang menyimpulkan bahwa dia bukan The One sebagaimana diyakini Morpheus. Dan kesimpulan ini penting bagi Neo, agar dalam menemukan kesejatiannya, tidak terhambat oleh pandangan dan sikap orang lain. Meski berhak untuk memandangnya seperti itu. Dan lepasnya ia dari belenggu faham The One, terbukti kemudian bisa membuatnya mengambil keputusan penting. Yaitu siap berkorban untuk menyelamatkan Morpheus. Mursyid pun membimbing saliknya secara personal. Dia tampil beda bagi setiap saliknya, sesuai dengan yang dibutuhkan bagi perjalanan sang salik. Seperti kata Morpheus setelah Neo keluar dari dapur, “Ingatlah, apa saja yang dikatakan Oracle itu hanya untukmu sendiri” Mursyid bukan ustadz, muballigh atau da’i. Bimbingannya tidak dibatasi oleh podium, pengajian maupun tulisan/buku. Meski saliknya bisa ribuan jumlahnya, dia mampu membimbing mereka secara person to person. Tentu dengan caranya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad saw yang menjadi milik setiap sahabatnya. Ya… begitulah interaksi salik-mursyid-salik di dunia tasawuf. Kepada Morpheus, Oracle berkata bahwa Morpheus akan menemukan The One. Dan dalam proses pencariannya selama bertahun-tahun, akhirnya Morpheus menemukan Neo, yang amat diyakininya sebagai The One. Oracle tak pernah menunjukkan langsung kepada Morpheus siapakah The One, dia hanya membimbing. Adalah suatu pencapaian bagi Morpheus ketika menemukan Neo The One. Keyakinan ini penting bagi Morpheus untuk melakukan tugasnya. Kepada Neo, Oracle memandu agar Neo yakin, bahwa dia bukan siapa-siapa. Karena keyakinan ini penting bagi Neo untuk melaksanakan tugasnya sebagai The One. Kepada Trinity, Oracle mengabarkan, bahwa ia akan jatuh cinta kepada The One. Trinity tampaknya tipikal wanita yang susah jatuh cinta, mungkin saking pintarnya (hackerwati). Sehingga bagi Trinity dasar keyakinannya adalah, siapakah yang bisa membuatnya jatuh cinta. Itulah The One.

IT S DIFFERENT BETWEEN KNOWING THE PATH AND WALKINGPROSES.

Dipikir-pikir, sebenarnya kita rugi besar kalau tak terbiasa menghayati proses. Justru nikmatnya hidup itu, adalah ketika munculnya kesadaran akan proses tsb. Saya bahkan sedang curiga, bahwa surga itu sebenarnya ya proses itu. Kita mungkin sudah amat terbiasa berfikir akan pencapaian. Bila kita baca sirah nabawiyyah, yang kita tangkap adalah kemuliaan dan kebesaran Baginda Rasulullah Muhammad saw beserta keluarbiasaan para sahabatnya. Bagaimana mulianya akhlaq Rasulullah saw. Bagaimana adilnya beliau kepada istri-istrinya. Bagaimana beliau bisa hadir secara personal di setiap hati para sahabatnya. Bagaimana belau bisa mencetak para sahabatnya menjadi pribadi-pribadi luar biasa. Dan bagaimana pula pribadi-pribadi luar biasa itu berkiprah dalam sejarah Islam. Bila kita membaca sejarah Islam, yang kita tangkap adalah masa-masa keemasan peradaban Islam. Betapa dulu, Islam dipenuhi dengan orang-orang hebat, jenius, revolusioner sekaligus mulia akhlaqnya. Itulah yang kita tangkap. Akibatnya, kini kita seperti memandang bintang-bintang di langit. Tak terjangkau. Hanya bisa berharap (sambil ragu) akan kembalinya masa-masa itu. Di satu sisi kita (berusaha) untuk yakin dengan janji Allah, di lain sisi kita menemukan fakta betapa jauhnya kita. Pola Hollywood, di mana segalanya berakhir happy end, adanya figur-figur sentral yang dominan, dan remehnya figur-figur lain di sekelilingnya, mungkin terlalu melekat di benak kita. Sehingga mempolakan model kehidupan tsb dalam diri kita. Semua kita bersaing untuk menjadi yang “ter”. Padahal surga akan kita raih ketika kita menjadi diri kita sendiri. Kita jadi kurang menghargai proses. Terlalu terbiasa memandang bintang, padahal bintang itu juga ada dalam qolb kita. Padahal kalau kita menghargai proses dan mensyukurinya, maka seperti kata Allah, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7) Menghayati dan menikmati proses, itulah syukur. The Matrix pun bercerita ttg Neo yang berproses. Dari seorang yang terlelap di dunia Matrix, kemudian menjadi seorang hacker, kemudian memilih mempercayai Morpheus dan akhirnya meminum pil merah dan terbangun dari mimpinya. Setelah hidup di alam real (Nebuchadnezar) pun, Neo masih terus berproses. Mengikuti training simulation, meraih pengetahuan dari The Oracle dan muridnya, dan kemudian mengamalkan pengetahuan tsb. Bahwa Neo adalah The One, dia berproses dari * Sekedar waham (persangkaan). * Kemudian peruntuhan waham tsb (peng-nol-an). * Beramal sholeh sebagai The One. Pada posting terdahulu, sudah terjelaskan proses yang terjadi pada point 1 dan 2. Dimana proses peng-nol-an terjadi. Proses peng-nol-an ini adalah kunci, yang bila dilakukan akan menampakkan hakikat diri seseorang. Dalam tasawuf, dikenal dengan istilah fana. Bayangkan saja sebuah studio rekaman, di mana semua komponen lagu seperti vokal, suara gitar, suara synthesizer, suara perkusi, dsb, direkam terpisah untuk meudian di mix (dicampur) ke dalam satu pita rekam tunggal. Bila kita ingin mengidentifikasi mana di antara itu semua suara yang datang dari cymbal, tinggal kita nolkan semua suara selain cymbal. Tentu ini semua hanya bisa kita lakukan di studio rekaman. Selagi kita masih berupa kaset, jangan berharap. Sewaktu akan menyelamatkan Morpheus, Neo sudah sampai pada point 2. Dia sudah menyadari, bahwa baginya dia itu bukan siapa-siapa. Dan dalam kondisi seperti itu, ternyata ia mampu menyelamatkan Morpheus. Padahal langkah tsb, bagi Tank dan Trinity adalah langkah bunuh diri. Neo bisa berbuat seperti itu karena dia beramal dalam kondisi nol (fana). Dan karena Neo memang sejatinya adalah The One, maka ketika dia fana muncullah sosok The One dalam dirinya. Itulah adegan penyelamatan Morpheus. Dan di akhir adegan ini ada kalimat Morpheus yang penting sekali bagi kita. Waktu Neo ingin memberitahu, bahwa dari Oracle dia mengetahui bahwa dia itu bukan siapa-siapa, Morpheus menyela, “She told you exactly what you need to hear. That’s all. Neo, sonner or later you going to realize it.

IT’S DIFFERENT BETWEEN KNOWING THE PATH AND WALKING”

DARI tulisan seseorang yang ngga mau disebut nya karena ngga tau siapa dia tau2 dah ada aja di mail saya,yah iseng2 posting aja semoga bermanfaat dan maaf bagi para salik kalau tulisan ini membuat anda2 berdecak garang,tiada maksud ingin menggurui dan tiada maksud buat menghina karena ini sekilas fenomena.

Melihat Gus Dur (dalam kenangan)

Gus Dur

Gus Dur

Judul Asli : Mencegat Lompatan-Lompatan Gus Dur

Tinjauan Sufisme Al-Hikam
Oleh: Muhammad Luqman Hakim
Banyak pihak dan banyak cara untuk memahami pola pikir dan spirit KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sejak ia terlibat dalam Jamiyah Nahdhatul Ulama (NU). Satu-dua pendekatan saja, terutama pendekatan sosiologis empirik, akan “terperangah” oleh hasil final dari realitas gerakan.Gus Dur dalam memimpin NU,atau Gus Dur sebagai pribadi. Kalau toh menggunakan pendekatan komprehensif, maka Gus Dur adalah totalitas ekspresi dari keseluruhan akumulasi NU itu sendiri, baik dari khazanah intelektual, kultural, politik dan harakah organisatoriknya.

Tidak banyak yang meninjau Gus Dur dari dimensi esoterik, sufistik, bahkan perenialistik. Padahal untuk memandang Gus Dur, ucapan tindakan dan manuvernya, harus pula melihat sisi fundamental yang menjadi pijakan spiritualistis Gus Dur, dan tentunya sangat mempengaruhi strategi-panjang pendek, universal-parsial, sakral-sekuler, ideal-real, nasionalisme-internasionalisme, dan sebagainya, bagi kepentingan NU, kebangsaan dan kemanusiaan dunia.

Dengan mengenal lebih dekat “hati” Gus Dus, akan mudah memahami lompatan-lompatan kultural kedepan, sehingga pasca Gus Dur kelak bisa lebih bisa melakukan antisipasi secara visional, tanpa harus membubarkan tatanan yang bertahun-tahun telah distrukturkan dalam piramida besar NU, sehingga para penerus Gus Dur tidak canggung bahkan menemukan spirit optimisme yang “suci” pasca Gus Dur.

Hati Gusdur
Hati Gus Dur adalah “Rumah Ilahi” atau “Arasy Allah”. Rumah yang dipenuhi dengan jutaan dzikiri dan gemuruh musik surgawi, setiap detik, setiap saat, setiap berdiri. bergerak (qiyaman) dan duduk diam (qu’udan) serta ketika tidur dalam kefanaan (‘alajunubihim). Rumah Ilahi selalu terjaga (mahfudz) dari segala godaan duniawi, prestisius, dan segala hal selain Allah, peringatan-peringatan Ilahi dan teguran-teguran-Nya, senantiasa “turun” ketika Gus Dur akan berbuat kesalahan, ketika Gus Dur “frustasi”, ketika Gus Dur terbuai oleh “iming-iming”, atau ketika Gus Dur terlalu bermimpi.

Itulah untungnya jadi Gus Dur, tapi juga demikianlah risiko besar yang harus diterima, manakala Gus Dur menyimpang dan dimensinya, melesat dari Rumah Ilahi, Berat sekali beban Gus Dur menjaga Rumah Ilahi, lebih berat ketimbang menjaga “rumah besar” NU, yang konon sebagai “rumah tua yang berwibawa” ini. Sukses Gus Dur menjaga Rumah Ilahi dalam kalbunya, adalah sukses besar NU. Karena itu di mata Gus Dur sendiri, menurut hati nuraninya – memimpin NU atau tidak, nilainya sebanding. Gus Dur bukanlah tipikal seorang yang berambisi menaiki tahapan derajat duniawi maupun berambisi mendapatkan megamat ruhani-ukhrawi, yang dalam dunia tasawuf disebut dengan al-Murid. Tetapi Gus Dur adalah sosok yang diburu, dikejar dan dikehendaki Oleh tahapan-tahapan tersebut, dicari poleh massa dan organisasi, bahkan secara radikal dalam sufisme ia adalah tokoh yang “dicari Tuhan” (al-Murad).

Gus Dur “dicari” Tuhan, dan ditemukan di lorong-lorong kebudayaan, diketiak orang-orang miskin, dalam aliran derasnya keringat para buruh. Allah menemukan Gus Dur dalam alunan musik klasik, digedung-gedung bioskop dan di tengah-tengah supporter sepak bola. Gus Dur diburu Tuhan, ketika berada disela-sela kolom surat kabar dan majalah, bahkan diburu sampai ke Israel dan Bosnia. Dan Gus Dur “ditangkap” Allah, ketika pandangan matanya sudah setengah buta, ketika merunduk tersenguk-senguk dimakam para Auliya. Sayang, Allah memeluk Gus Dur ketika Gus Dur sudah “gila”, dan memimpin arisan orang-orang yang “gila” kepadanya.

Benar kata Khalil Gibran, “Di tengah masyarakat yang terdiri dari orang-orang gila, orang yang paling waras disebut sebagai orang yang paling gila. Dan di tengah masyarakat yang terdiri orang-orang yang waras, orang yang paling gila disebut orang waras”.

Gus Dur dikatakan “gila” oleh masyarakat gila yang merasa waras. Dan ia disebut sebagai paling waras ditengah-tengah orang-orang “gila” yang tidak ingin waras. Kebudayaan “gila” dewasa ini harus diatur oleh orang paling waras, walaupun orang paling waras itu harus mendapatkan sebutan sebagai orang paling gila.

“Kegilaan” Gus Dur adalah tipikal paling relevan untuk memimpin masyarakat yang tergila-gila oleh kegilaan. Sebab Gus Dur adalah terali, tembok, pilar, atap, dan ornamen-ornamen bagi rumah Ilahi, yang terus mengalami “keterasingan” di tengah-tengah rumah besarnya sendiri, di tengah¬tengah bangsanya sendiri, juga di sudut-sudut lapuk warga nahdhiyin-nya.

Dia Sendiri Adalah Al-Hikam
NU sebenarnya adalah organisasi paling banyak jumlah kaum ‘arifin-nya dibanding organisasi keagamaan yang lainnya. Karena itu NU memiliki derajat sebagai satu-satunya organisasi “Yang Diridhai”, atau mungkin yang lain sekedar diakui, disamakan, atau “terdaftar” saja dalam catatan lembaran langit.

Kehadiran Gus Dur untuk mereformasi secara puritan melalui “Khittah 1926” adalah bentuk perenialisme NU dalam matra zaman yang lebih luas. Bukannya upaya memutar gerak jarum jam sejarah ke masa Ialu. Tetapi, mundur untuk melompat ke depan lebih jauh. Lompatan-Iompatan dalam visi Gus Dur ketika menerjemahkan Khittah 1926, merupakan lompatan “spiritual NU” yang kemudian berakses kepada lompatan moral, politik, kebudayaan dan tradisi intelektual serta sosial-ekonomi. Lompatan-lompatan ini bisa dilihat dari dimensi paling sederhana, namun merupakan dimensi paling dalam. Yakni dimensi sufisme yang menjadi “akhlak” ulama salaf dan ulama-ulama generasi pendiri NU.

Hal yang tidak bisa dipungkiri, adalah kesatuan para ulama pendiri NU dan Gus Dur sendiri, dengan wacana-wacana Corpus Tassawuf yang ditulis oleh Taajuddin Ahmad bin Muhammad bin Abdul Karim bin Atba’illah as-Sakandari, yakni kitab Al-Hikam. Hampir seluruh pesantren salaf di Indonesia, mengkaji kitab tersebut, dan sekaligus menjadi pijakan moralitasnya.

Kitab Al-Hikam, merupakan magnum corpus kaum sufi, yang mengandung mister-misteri spiritual dan sekaligus bisa digunakan untuk memprediksi gelombang pasang surut spriritual keagamaan semacam. yang terjadi dalam tubuh NU, Gus Dur sendiri yang hafal di luar kepala setiap wacana (matan) kitab Al-Hikam ini, tentu memahami secara lebih massif dan universal bagi kepentingan historis NU. Dalam bahasa yang paling “tradisional” kembali ke Khittah 1926, berarti kembali ke dalam dimensi “Al-Hikam” tersebut. Karena itu sebelum memimpin NU, Gus Dur telah menyatu dengan “Al-Hikam”, yang kelak ketika memimpin NU, Al-Hikam menjadi instrumen “penggugat” dalam intern NU. Sayangnya, ribuan pesantren di Indonesia dewasa ini, telah merasa asing dengan kitab ini. Sebab, kitab ini merupakan kitab instrospektif, kitab yang bisa menusuk diri sendiri, kitab yang “ditakuti” oleh para kiai. Akhirnya, dari 6.000 pesantren yang ada, hanya beberapa gelintir saja yang masih mengkaji kitab ini. Fakta ini pula yang membuat gerakan moral ulama yang dilakukan Gus Dur banyak terhambat.

Matan Al-Hikam, Khittah 1926 dan Pasca Gus Dur
Coba kita renungkan sukses besar para. pendiri NU ketika mendirikan NU tahun 1926. kesuksesan ini erat dengan matan pertama dari Al-Hikam:

“Di antara tanda bersiteguh terhadap amal, adalah berkurangnya harapan (kepada Allah) ketika terjadi tindakan dosa”.

Para Ulama pendiri NU dan Gus Dur tidak pernah mengajak warganya untuk bersikap menggantungkan diri pada upaya dan amalnya, dengan asumsi bahwa amal itu bisa menyelamatkannya. Kerj a organisasi, perjuangan, aktivitas nadhiyin, harus terjauhkan dari sikap i’timad terhadap amal. Sebab, sikap i’timad seperti itu, hanya melahirkan ketamakan dalam organisasi dan ambisi historis. I’timad terhadap amal, ikhtiar, dan upaya-upaya manusiawi hanyalah bentuk “penghalang” antara hamba dengan Sang Khalik. Amal hanyalah makhluk, bukan Khalik. Membanggakan makhluk adalah bentuk immoral yang jauh dari harapan spiritual yang menghantar sukses besar.

Para mujahid di kalangan ulama NU yang turut menghantar kemerdekaan bangsa ini, sama sekali menepiskan ketergantungannya terhadap amal dan sejarah. Satu-satunya tempat i’timad hanyalah Allah. Karena itu Khittah 1926 dulu jauh dari rekayasa-rekayasa ambisi politik, kalau toh pun ada akan tersingkir oleh sejarah. Ibnu Atha’ilah mengaitkan kebergantungan terhadap amal tersebut dengan tindakan dosa. Dalam konteks Khittah 1926, kembali ke Khittah 1926, tidak harus disertai “rasa bersalah” yang terus menerus,  sehingga mengurangi optimisme masa depan (raja’) itu sendiri. Sebab siapa pun yang merasa “miris” dan pesimis terhadap rahmat Allah ketika ia berbuat dosa, berarti ia belum bergantung kepada Allah, masih bergantung kepada amalnya. Begitu juga, warga NU yang masih merasa bersalah atas “dosa sejarah” yang mengakibatkan dirinya ekslusif, tersingkir, pesimis, dan bahkan cenderung “membangkang” berarti masih i’timad terhadap upaya amal, bukan i’timad kepada Allah. Sikap demikian inilah yang ingin “diberantas” Gus Dur.

Fakta demikian sesuai dengan wacana Al-Hikam berikutnya:
“Keinginanmu untuk tajrid, sementara Allah masih memposisikan dirimu pada dimensi sebab akibat (duniawi) merupakan bagian dari nafsu tersembunyi. Dan keinginanmu kembali pada sebab akibat (duniawi), sementara Allah sudah memposisikan dirimu dalam dimensi tajrid, merupakan penurunan (degradasi) dari cita¬cita yang luhur. ”

Tajrid merupakan bentuk eskapisme kepada Allah tanpa menghiraukan dimensi selain Allah. Dalam konteks ke-Gus Dur-an, adalah “tidak mau tahu” urusan organisasi, urusan kemasyarakatan, urusan kemiskinan dan kebudayaan, bahkan urusan demokratisasi. Sikap demikian merupakan bentuk eskapisme nafsu yang tersembunyi, bukan eskapisme kesucian Ilahi. Padahal mayoritas warga NU belum sampai ke tahap tajrid ini. Lebih ekstrim lagi banyak tokoh-tokoh NU menggunakan baju tajrid untuk kepentingan pribadinya, kepentingan nama dan perutnya, ya kepentingan nafsunya. Lebih jauh lagi untuk kepentingan. politik kelompok tertentu.

Sebaliknya, mereka yang sudah sampai pada maqam tajrid dalam konteks ke-NU-an- tiba-tiba masih berambisi terjun ke dunia kausalitas NU. Tentu , tindakan demikian merupakan degradasi moral bagi ketokohannya. Para tokoh yang seharusnya “pensiun” dari NU, untuk lebih mendekatkan diri dalam “wilayah muraqabah dan taqarruh Ilahi”, ternyata banyak yang “cawe-cawe” ke dunia empirik, yang membuat keruwetan di tubuh NU. Padahal Allah sudah memberikan “kursi empuk spiritual”, malah memilih kursi empuk duniawi. Inilah agenda Gus Dur sampai saat ini. Bahwa transformasi dari tahap kausalitas menuju tahap tajrid dalam NU, adalah tahap perjuangan dari unsur kepentingan menuju unsur “kepentingan Ilahi”, dari hal-hal yang bersifat empirik ke esoterik. Sukses besar NU manakala NU mampu melakukan transformasi menuju “tajrid” peradaban yang luhur.

Gagalkah Gus Dur? Gagal dan tidak, harus ditinjau dari prespektif yang luas. Ditinjau dari segi Al-Hikam, keberhasilan Gus Dur dengan Khittah 1926, bukan karena Gus Dur atau para pendukungnya. Hakikat keberhasilan Gus Dur yang ada, sama sekali tidak takdir Ilahi terhadap NU.

Ikhtiar, upaya, semangat, jihad, adalah “tanda-tanda” sukses NU, bukannya faktor penentunya. Dalam dimensi tasawuf Al-Hikam, apabila NU ditakdirkan berhasil dan sukses, akan banyak Gus Dur lain yang memiliki visi dan ruh yang sama. Bukan sebaliknya.

Namun kenyataannya, justru sebaliknya. Banyak tokoh-tokoh NU yang merasa mampu mengubah takdir Allah, dan ketika berhasil menganggap sebagai upayanya sendiri tanpa campur tangan Ilahi. Kecuali kalau gagal, baru mengatakan, “Demikianlah takdir Allah…!”

Karena itulah, Al-Hikam menyarankan pada matan selanjutnya:
“Abaikanlah dirimu untuk ikut campur (urusan Allah), sebab apa yang sudah diurus oleh. selain dirimu berkakaitan dengan dirimu, Anda jangan ikut campur di dalamnya untuk kepentinganmu.”

Selanjutnya Gus Dur pun sering menghimbau kepada para kiai dan ulama, khususnya kalangan NU, agar tidak ikut mencampuri urusan yang bukan bidangnya. Misalnya urusan pencalonan presiden maupun gubernur, ataupun bupati. Urusan tersebut ada yang berwenang menangani. Ikut campur di luar bidangnya adalah bentuk salah kaprah yang fatal, dan menjadi kerumitan dinamika NU. Dan matan berikutnya berbunyi:
“Ijtihad Anda pada hal-hal yang sudah dijamin untuk diri Anda, dan sikap teledor Anda terhadap kewajiban yang harus Anda penuhi, merupakan bukti atas kekaburan mata hati Anda.”

Bayangkan, berapa ribuan tokoh-tokoh NU yang mata hatinya kabur, karena etika dan sikap moralnya yang teledor, hanya karena mementingkan tuntutannya dibandingkan mementingkan tugasnya?

Gus Dur tidak pernah putus asa. Walaupun ia di tuntut terus menerus, khususnya pada setiap even dan momen tertentu. Gus Dur hariya bisa kembali sebagaimana wacana Al-Hikam dari matan ke matan berikutnya.

Dan sungguh, matan-matan Al-Hikam, tertib dan strukturnya, mulai awal hingga akhir, yang memenuhi lembaran-lembaran kitab, merupakan kesimpulan dari perjalanan spriritual penempuh jalan sufi, sekaligus juga peristiwa-peristiwa dalam konteks NU yang bakal maujud dalam sejarah NU dan umat Islam, Karena itu membaca NU pasca Gus Dur akan sangat mudah dengan membaca Al-Hikam dengan penafsiran dinamika NU,’ karena di sana penuh dengan solusi-solusi langsung dan aktual.

Dalam prediksi matan Al-Hikam, NU pasca Gus Dur adalah pertama-tama NU akan melewati perebutan-perebutan ambisi yang saling menyodorkan alternatif. Sedangkan alternatif yang disodorkan oleh Khittah 1926, sebagai visi Gus Dur, dianggap belum tuntas. Padahal Gus Dur, sebagaimana Al-Hikam, menyandarkan titik akhir sejarah NU hanya kepada “alternative yang terbaik menurut Allah”, alternatif konsepsionalisasi yang direkayasa atau dipaksakan menurut penilaian tarbaik manusia. Kapan dan bagaimana allternatif Ilahi NU teraktualisasi dalam sejarah. Menurut Gus Dur dan Al-Hikam, hanya Allah saja yang tahu kapan aktualisasi historis idealisme itu maujud secara proporsional.

Paling tidak, Gus Dur walaupun belum maksimal telah melampaui tiga matan Al-Hikam di atas, dalam konstelasi ke-NU-annya. Tugas pelanjut Gus Dur adalah menerjemahkan matan-matan berikutnya dan konteks spirit NU masa depan, melalui solusi yang ditawarkan oleh Al-Hikam. Dalam hal ini, sangat dibutuhkan suatu Syarah Al-Hikam yang konstektual dengan NU modern. Suatu tantangan bagi kaum spiritulis NU yang memiliki “kearifan” dalam sejarah.

Sebagaimana para pembaharu atau mujtahid dalam dunia Islam, pasca mujtahid adalah para komentator, interpretator, dan kreator yang lebih spesialis dan detil. Maka, pasca Gus Dur, adalah Gus Dur-Gus Dur “kecil” yang “cantik” dan “indah” yang mampu mengepakkan sayap-sayapnya menjadi tarian yang rampak. Tarian “Gusduriyah”.

TAREKAT SAMMANIYAH

TAREKAT SAMMANIYAH

Tarekat ini berkembang pesat di wilayah Afrika bagian utara,terutama Sudan.Di samping Naqsyabandiah, Syattariyah, Qadiriyah, dan Syadziliyah, umat Islam juga mengenal adanya Tarekat Sammaniyah. Tarekat Sammaniyah merupakan salah satu cabang dari Tarekat Syadziliyah yang didirikan oleh Abu Hasan Ali asy-Syazili (wafat 1258) di Mesir. Pendiri Tarekat Sammaniyah adalah Muhammad bin Abdul Karim as-Samani al-Hasani al-Madani (1718-1775 M).

Tarekat ini berhasil membentuk jaringan yang sangat luas dan mempunyai pengaruh besar di kawasan utara Afrika, yaitu dari Maroko sampai ke Mesir. Bahkan, memperoleh pengikut di Suriah dan Arabia. Aliran tarekat ini lebih banyak menjauhkan diri dari pemerintahan dan penguasa serta lebih banyak memihak kepada penduduk setempat, di mana tarekat ini berkembang luas.

Salah satu negara Afrika yang banyak memiliki pengikut Tarekat Sammaniyah adalah Sudan. Tarekat ini masuk ke Sudan atas jasa dari Syekh Ahmad at-Tayyib bin Basir yang sebelumnya belajar di Makkah sekitar tahun 1800. Pemimpin Tarekat Sammaniyah di Sudan yang terkenal ialah Syekh Muhammad Ahmad bin Abdullah (1843-1885) yang pernah memproklamasikan dirinya sebagai mahdi (pemimpin yang ditunggu-tunggu kedatangannya oleh masyarakat). Ia adalah seorang pemimpin dan anggota Tarekat Sammaniyah yang sangat saleh dan kehadirannya dinanti-nantikan oleh masyarakat Sudan.

Syekh Muhammad Ahmad menghendaki adanya perbaikan-perbaikan terhadap praktik-praktik keagamaan sesuai dengan agama Islam yang benar. Ia memberikan berbagai perintah tentang bermacam-macam aspek keagamaan, seperti pengasingan (pingitan) terhadap kaum wanita dan pembagian tanah kepada rakyat, dan berusaha memodifikasi berbagai praktik keagamaan masyarakat Sudan yang pada waktu itu dilakukan sebagai tradisi. Ini semua bertujuan untuk menyesuaikan tradisi mereka dengan ajaran-ajaran syariat.

Syekh Muhammad Ahmad juga menentang pemakaian jimat, penggunaan tembakau dan alkohol, ratapan wanita pada upacara pemakaman jenazah, penggunaan musik dalam prosesi keagamaan, dan ziarah ke kuburan orang-orang suci (wali). Dalam rangka meniru hijrah Nabi Muhammad SAW, ia dan para pengikutnya mengasingkan diri di Pegunungan Kardofan, lalu menyebut diri mereka sebagai Ansar (penolong) Nabi SAW. Lebih jauh, kelompok ini berhasil membentuk pemerintahan revolusioner dengan organisasi militer yang sangat rapi dan mempunyai sumber keuangan yang teratur serta administrasi yang baik.

Amalan Sammaniyah

Ciri-ciri Tarekat Sammaniyah adalah berzikir La llaha Illa Allah dengan suara yang keras oleh para pengikutnya. Dalam mewiridkan bacaan zikir, para murid Tarekat Sammaniyah biasa melakukannya secara bersama-sama pada malam Jumat di masjid-masjid atau mushala sampai tengah malam.

Selain itu, ibadah yang diamalkan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Samani adalah shalat sunah Asyraq (setelah Subuh) dua rakaat, shalat sunah Dhuha sebanyak 12 rakaat, memperbanyak riyadhah (melatih diri lahir batin untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT), dan menjauhkan diri dari kesenangan duniawi.

Berikut adalah beberapa ajarannya yang terkenal. Pertama, memperbanyak shalat dan zikir. Kedua, bersikap lemah lembut kepada fakir miskin. Ketiga, tidak mencintai dunia. Keempat, menukarkan akal basyariyah (kemanusiaan) dengan akal rabbaniyah (ketuhanan). Kelima, menauhidkan Allah SWT, baik dalam zat, sifat, maupun a/aZ-Nya. Bed sya

Syekh Samman Sang Pendiri Sammaniyah 

Kemunculan Tarekat Sammaniyah bermula dari kegiatan sang tokoh pendirinya, yaitu Syekh Muhammad bm Abdul Karim as-Samani al-Hasani ai-Madani al-Qadiri al-Quraisyi. Ia adalah seorang fakih, ahli hadis, dan sejarawan pada masanya. Dilahirkan di Kota Madinah pada tahun 1132 Hijriyah atau bertepatan dengan tahun 1718 Masehi. Keluarganya berasal dari suku Quraisy.

Semula, ia belajar Tarekat Khalwatiyyah di Damaskus. Lama-kelamaan, ia mulai membuka pengajian yang berisi teknik zikir, wirid, dan ajaran tasawuf lainnya. Ia menyusun cara pendekatan diri dengan Allah SWT yang akhirnya disebut sebagai Tarekat Sammaniyah. Sehingga, ada yang mengatakan bahwa Tarekat Sammaniyah adalah cabang dari Khalwatiyyah.

Demi memperoleh ilmu pengetahuan, ia rela menghabiskan usianya dengan melakukan berbagai perjalanan. Beberapa negeri yang pernah ia singgahi untuk menimba ilmu di antaranya adalah Iran, Syam, Hijaz, dan Transoxiana (wilayah Asia Tengah saat ini). Karyanya yang paling terkenal adalah kitab Allnsab. Ia juga mengarang buku-buku lain, seperti Mujamu al-Masyayikh, Tazyilul Tarikh Baghdad, dan Tarikh Marv.

Kemuliaan

Syekh Muhammad Samman dikenal sebagai tokoh tarekat yang memiliki banyak karamah. Baik kitab Manaqib Syaikh al-Waliy al-Syahir Muhammad Saman maupun Hikayat Syekh Muhammad Saman, keduanya mengungkapkan sosok Syekh Samman.

Sebagaimana guru-guru besar tasawuf, Syekh Muhammad Samman terkenal akan kesalehan, kezuhudan, dan kekeramatannya. Konon, ia memiliki karamah yang sangat luar biasa. “Ketika kaki diikat sewaktu di penjara, aku melihat Syekh Muhammad Samman berdiri di depanku dan marah. Ketika kupandang wajahnya, tersungkurlah aku dan pingsan. Setelah siuman, kulihat rantai yang melilitku telah terputus,” kata Abdullah al-Basri. Padahal, kata seorang muridnya, ketika itu Syekh Samman berada di kediamannya sendiri.

Adapun perihal awal kegiatan Syekh Muhammad Samman dalam tarekat dan hakikat, menurut Kitab Manaqib. diperolehnya sejak bertemu dengan Syekh Abdul Qadir Jailani.

Suatu ketika, Syekh Muhammad Samman berkhalwat (menyendiri) di suatu tempat dengan memakai pakaian yang indah-indah. Pada waktu itu. datang Syekh Abdul Qadir Jailani yang membawakan pakaian jubah putih. “Ini pakaian yang cocok untukmu.” Ia kemudian memerintahkan Syekh Muhammad Samman agar melepas pakaiannya dan mengenakan jubah putih yang dibawanya. Konon, Syekh Muhammad Samman menutup-nutupi ilmunya sampai datanglah perintah dari Rasulullah SAW untuk menyebarkannya kepada penduduk Kota Madinah.

Tarekat Sammaniyah di Indonesia

Tarekat Sammaniyah dibawa ke Indonesia oleh empat orang ulama yang dijuluki dengan empat serangkai.
Sebagaimana tarekat-tarekat besar lainnya seperti Naqsabandiyah, Qadiriyah, Tijaniyah, dan Syattariyah, Tarekat Sammaniyah juga berkembang di Indonesia. Di bumi nusantara ini, tarekat yang didirikan oleh Syekh Muhammad bin Abdul Karim as-Sammani al-Hasani al-Madani (1718-1775 M), dibawa oleh sejumlah pelajar Indonesia yang menuntut ilmu di Haramain (Makkah dan Madinah). Mereka yang memiliki perhatian cukup besar terhadap Tarekat Sammaniyah terdapat empat orang murid asal Indonesia, yakni Syekh Abdussamad al-Falimbani, Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Muhammad Abdul Wahab Bugis, dan Syekh Abdurrahman al-Masri (Betawi). Mereka ini terkenal pula dengan julukan “empat serangkai.”

Karena peran keempat tokoh tersebut, Tarekat Sammaniyah berkembang di Tanah Air, seperti Aceh, Sumatra Selatan, Jakarta (Betawi), Kalimantan (Banjar), dan Sulawesi (Bugis). Keempatnya berjasa besar dalam memperkenalkan Tarekat Sammaniyah ke Indonesia.

Syekh Samman adalah seorang ulama dan sufi terkenal yang mengajar di Madinah. Awalnya, Syekh Samman merupakan pengikut dari berbagai tarekat, seperti Khalwatiyah, Qadiriyah, Naqsabandiyah, dan Syadziliyah. ia kemudian memadukan berbagai unsur tarekat-tarekat tersebut menjadi cabang tarekat tersendiri dengan nama Tarekat Sammaniyah.

Menurut Usman Said, dalam bukunya Pengantar Ilmu Tasawuf (1981,258), di Indonesia Tarekat Sammaniyah pertama kali tersebar dan memberikan pengaruh yang luas di Aceh, Kalimantan, Sumatra terutama Palembang dan beberapa daerah lainnya. Demikian pula di Jakarta sangat besar pengaruhnya di kalangan penduduk dan daerah sekitarnya. Murid Indonesianya yang paling ternama adalah Syekh Abdussamad al-Falimbani, yang umumnya dianggap sebagai orang pertama yang membawa dan memperkenalkan Tarekat Sammaniyah di nusantara, terutama Sumatra dan daerah sekitarnya.

Sedangkan di Jakarta, diperkenalkan oleh Syekh Abdurrahman al-Masri, dan di Kalimantan Selatan, khususnya Martapura dan Banjarmasin, diperkenalkan oleh Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari dan Syekh Muhammad Abdul Wahab Bugis, yang menjadi menantu Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Ulama lainnya yang berperan besar dalam menyebarkan Tarekat Sammaniyah di Kalimantan Selatan adalah Syekh Muhammad Nafis al-Banjari, pengarang kitab Ad-Durun Nafis (Permata yang Indah). Kitab ini berisi tentang masalah tasawuf.

Menurut Abu Bakar Atjeh, ciri-ciri Tarekat Sammaniyah ini, antara lain, adalah zikirnya yang keras-keras dengan suara yang tinggi dari pengikutnya sewaktu melakukan zikir Laa ilaaha illa Allah, di samping itu juga terkenal dengan Ratib Samman yang hanya mempergunakan perkataan Hu, yaitu Dia Allah. (Pengantar Ilmu Tasawuf, 1979, 47).

Ajaran-ajaran yang disampaikan oleh Syekh Samman, antara lain, memper Syekh Muhammad Asyad Al-Banjari
banyak shalat dan zikir, berlemah lembut kepada fakir miskin. Tidak mencintai dunia, menukarkan akal basyariah dengan akal rabbaniyah, dan tauhid kepada Allah dalam zat. sifat, dan afal-Nya.

Penyebaran di Indonesia

Penyebaran Tarekat Sammaniyah di wilayah Sumatra, dilakukan oleh Syekh Abdussamad al-Falimbani (wafat 1800 M). Menurut riwayat, sebelum ke Palembang, Syekh Abdussamad al-Falimbani dahulunya menyebarkan Tarekat Sammaniyah di Aceh. Ia mengajarkan doa dan zikir yang didapatkannya dari Syekh Samman. Mulanya tarekat ini murni mengajarkan zikir yang termuat dalam ratib Samman. Namun dalam perkembangannya, zikir itu dinyanyikan oleh sekelompok orang.

Menurut Snouck Hurgronje (orientalis yang menulis tentang Islam di Indonesia), Syekh Samman menulis sejumlah ratib yang terkenal dengan nama Ratib Samman. Di Aceh, Ratib Samman dan atau Hikayat Samman, sangat populer. Ratib Samman inilah yang kemudian berubah menjadi suatu macam permainan (tarian) rakyat yang terkenal dengan nama seudati (tarian). (Usman Said, 1981, 286). Tarian Saman ini. hingga kini sangat terkenal di seantero nusantara yang berasal dari Aceh.

Sebagian ulama Aceh, dulu pernah menentang pembacaan Ratib Saman yang dinyanyikan atau ditarikan. Tarian Meu-saman atau Seudati ini sedikitnya dimainkan oleh delapan orang pria atau wanita.

Kendati awal mulanya berkembang di Aceh, namun penyebaran Tarekat Sammaniyah berkembang luas di Palembang (Sumatra Selatan), tempat kelahiran Syekh Abdussamad Al-Falimbani, yakni sekitar abad ke-18.

Martin Van Bruinessen dalam artikelnya yang berjudul “Tarekat dan Politik; Amalan untuk Dunia dan Akhirat”, Tarekat Sammaniyah yang berkembang di Palembang dibawa dari Tanah Suci oleh murid-murid Abdussamad Al-Falimbani. Menurut Van Bruinessen, Syekh Abdussamad al-Falimbani adalah seorang sufi yang tidak mengabaikan urusan dunia.

Sementara itu, di daerah Kalimantan Selatan, perkembangan Tarekat Sammaniyah ini, menurut Zulfajamalie dalam Menelusuri Penyebaran Tarekat Sammaniyah di Tanah Banjar, dilakukan oleh tga ulama terkenal. Mereka adalah Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari, Syekh Muhammad Abdul Wahab Bugis,

Syekh Muhammad Nafis al-Banjari

dan Syekh Muhammad Nafis al-Banjari.

Syekh Muhammad Arsyad, jelas Zulfajamalie, menyebarkan Tarekat Sammaniyah di daerah Kalampayan Martapura, Syekh Muhammad Nafis di daerah Kelua (Kabupaten Tabalong), dan Syekh Muhammad Abdul Wahab Bugis di daerah Tanah Laut, Kota Baru, Pagatan, dan daerah sekitarnya.

Sepeninggal ketiga tokoh tersebut, penyebaran Tarekat Sammaniyah diteruskan oleh ulama-ulama lainnya dan sebagian masih memiliki hubungan kekeluargaan dengan Syekh Muhammad Arsyad al-Banjari. Di antaranya Syekh KH Muhammad Zaini bin Abdul Ghani (Guru Ijai, wafat 2005) di daerah Sekumpul (Martapura), dan Syekh Muhammad Syarwani Abdan (Bangil, Jawa Timur).

Van Bruinessen dalam Kitab Kuning, Pesantren dan Tarekat Tradisi-tradisi Islam di Indonesia (1999, 66), menyebutkan, Syekh Muhammad Nafis al-Banjari memiliki peran yang cukup besar dalam menyebarkan Tarekat Sammaniyah.

Hal senada juga diungkapkan Laily Manshur dalam Kitab ad-Durun Nafis, Tinjauan atas Ajaran Tasawuf dan Ahmadi Isa dalam Syekh Muhammad Nafis dan Kitabnya al-Durr al-Nafis.

Ada beberapa alasan mengenai penyebaran Tarekat Sammaniyah yang dikembangkan oleh Syekh Muhammad Nafis al-Banjari di Kalimantan Selatan. Pertama, Laily Manshur menulis, Muhammad Nafis juga berguru pada Syekh Muhammad Samman. Kedua, dalam kitab tasawufnya Al-Durr al-Nafis fi Bayan Wahdat al-Afal wa al-Asma wa al-Shifat iva al-Zat al-Taqdis, berisi pelajaran tauhid dalam struktur yang sistematis, pokok-pokok ajaran tasawuf, dengan mengutamakan tauhidul sifat, zat, dkn afal dan ditulisnya pada 1200 H atau 1785 M ketika masih belajar di Makkah. Termaktub pengakuannya bahwa Syafii adalah mazhab fikihnya, Asyari itiqad tauhid atau ushuluddinnya, Junaidi al-Baghdadi ikutan tasawufnya, Qadariyah tarekatnya, Syattariyah pakaiannya, Naqsabandiyah amalnya, Khalwatiyah makanannya, dan Sammaniyah minumannya.

Ketiga, sebagaimana Syekh Muhammad Arsyad yang mendapatkan ijazah khalifah dalam Tarekat Sammaniyah, Syekh Muhammad Nafis pun diakui oleh gurunya menguasai ilmu tasawuf dan tarekat yang diajarkan kepadanya dengan baik, sehingga dia diberi gelar oleh gurunya sebagai Syekh Mursyid.

Wa Allahu Alam. U

Pengertian Tarekat

Tareka

Tarekat berasal dari kata ‘thariqah’ yang artinya ‘jalan’. Jalan yang dimaksud di sini adalah jalan untuk menjadi orang bertaqwa, menjadi orang yang diredhoi Allah s.w.t. Secara praktisnya tarekat adalah kumpulan amalan-amalan lahir dan batin yang bertujuan untuk membawa seseorang untuk menjadi orang bertaqwa.

Ada 2 macam tarekat yaitu tarekat wajib dan tarekat sunat.

  1. tarekat wajib, yaitu amalan-amalan wajib, baik fardhu ain dan fardhu kifayah yang wajib dilaksanakan oleh setiap muslim. tarekat wajib yang utama adalah mengamalkan rukun Islam. Amalan-amalan wajib ini insya Allah akan membuat pengamalnya menjadi orang bertaqwa yang dipelihara oleh Allah. Paket tarekat wajib ini sudah ditentukan oleh Allah s.w.t melalui Al-Quran dan Al-Hadis. Contoh amalan wajib yang utama adalah shalat, puasa, zakat, haji. Amalan wajib lain antara lain adalah menutup aurat , makan makanan halal dan lain sebagainya.
  2. tarekat sunat, yaitu kumpulan amalan-amalan sunat dan mubah yang diarahkan sesuai dengan 5 syarat ibadah untuk membuat pengamalnya menjadi orang bertaqwa. Tentu saja orang yang hendak mengamalkan tarekat sunnah hendaklah sudah mengamalkan tarekat wajib. Jadi tarekat sunnah ini adalah tambahan amalan-amalan di atas tarekat wajib. Paket tarekat sunat ini disusun oleh seorang guru mursyid untuk diamalkan oleh murid-murid dan pengikutnya. Isi dari paket tarekat sunat ini tidak tetap, tergantung keadaan zaman tarekat tersebut dan juga keadaan sang murid atau pengikut. Hal-hal yang dapat menjadi isi tarekat sunat ada ribuan jumlahnya, seperti shalat sunat, membaca Al Qur’an, puasa sunat, wirid, zikir dan lain sebagainya.

Hubungan antara tarekat dengan wirid/zikir

Salah satu amalan tarekat adalah wirid/zikir yang dibaca secara teratur dengan disiplin tertentu. Wirid ini diberikan/didiktekan oleh Rasulullah kepada pendiri tarekat tersebut melalui yaqazah (pertemuan secara sadar/jaga). Fungsi wirid ini adalah sebagai penguat amalan batin pada para pengamal tarekat tersebut.

Kaum Sufistik dan Pertumbuhan Thariqat

KAUM Sufi atau biasa disebut sufistik adalah mereka yang menganut dan mengamalkan faham “tasawuf.” Para sufistik juga sering dinamakan dengan kaum suci yang sedang menggapai cahaya Allah. Istilah “tasawuf”(sufism) sendiri telah sangat populer digunakan selama berabad-abad. Secara umum istilah tasawuf berarti orang-orang yang tertarik kepada pengetahuan batin, orang-orang yang tertarik untuk menemukan suatu jalan atau praktik ke arah kesadaran dan pencerahan batin. Istilah ini hampir tak pernah digunakan pada dua abad pertama Hijriah, bahkan di masa hidup Nabi Muhammad saw, atau orang sesudah beliau, atau yang hidup setelah mereka.

Sejarah kelahirannya bermula di abad kedua dan ketiga setelah kedatangan Islam (622), terdapat sebagian orang yang mulai menyebut dirinya sufi yang berarti mereka mengikuti jalan penyucian diri, penyucian “hati”, dan pembenahan kualitas watak dan perilaku mereka untuk mencapai maqam (kedudukan) orang-orang yang menyembah Allah seakan-akan mereka melihat Dia. Bermacam-macam definisi tasawuf digunakan para syeikh besar sufi, diantaranya sebagai berikut: Imam Junaid dari Baghdad mendefinisikan tasawuf sebagai “mengambil setiap sifat mulia dan meninggalkan setiap sifat rendah”.

Syekh Abul Hasan asy-Syadzili, syekh sufi besar dari Afrika Utara, mendefinisikan tasawuf sebagai “praktik dan latihan diri melalui cinta yang dalam dan ibadah untuk mengembalikan diri kepada jalan Tuhan”.

Syekh Ahmad Zorruq dari Maroko mendefinisikan tasawuf sebagai berikut: Ilmu yang dengannya Anda dapat memperbaiki hati dan menjadikannya semata-mata bagi Allah, dengan menggunakan pengetahuan Anda tentang jalan Islam,khususnya fiqih dan pengetahuan yang berkaitan, untuk memperbaiki amal Anda dan menjaganya dalam batas-batas syariat Islam agar kebijaksanaan menjadi nyata.

Syekh Ibn Ajiba: Tasawuf adalah suatu ilmu yang dengannya Anda belajar bagaimana berperilaku supaya berada dalam kehadiran Tuhan yang Maha ada melalui penyucian batin dan mempermanisnya dengan amal baik. Jalan tasawuf dimulai sebagai suatu ilmu, tengahnva adalah amal. dan akhirnva adalah karunia Ilahi.

Syekh as-Suyuthi berkata, “Sufi adalah orang yang bersiteguh dalam kesucian kepada Allah, dan berakhlak baik kepada makhluk”.

Sementara dalam konteks Islam tradisional tasawuf berdasarkan pada kebaikan budi ( adab) yang akhirnya mengantarkan kepada kebaikan dan kesadaran universal. Ke baikan dimulai dari adab lahiriah, dan kaum sufi yang benar akan mempraktikkan pembersihan lahiriah serta tetap berada dalam batas-batas yang diizinkan Allah, la mulai dengan mengikuti hukum Islam, yakni dengan menegakkan hukum dan ketentuan-ketentuan Islam yang tepat, yang merupakan jalan ketaatan kepada Allah. Jadi, tasawuf dimulai dengan mendapatkan pengetahuan tentang amal-amal lahiriah untuk membangun, mengembangkan, dan menghidupkan keadaan batin yang sudah sadar.

Tasawuf (Tasawwuf) atau Sufisme adalah ilmu untuk mengetahui bagaimana cara menyucikan jiwa, menjernihan akhlaq, membangun dhahir dan batin, untuk memporoleh kebahagian yang abadi. Tasawuf pada awalnya merupakan gerakan zuhud (menjauhi hal duniawi) dalam Islam, dan dalam perkembangannya melahirkan tradisi mistisme Islam. Tarekat (pelbagai aliran dalam Sufi) sering dihubungkan dengan Syiah, Sunni, cabang Islam yang lain, atau kombinasi dari beberapa tradisi. Pemikiran Sufi muncul di Timur Tengah pada abad ke-8, sekarang tradisi ini sudah tersebar ke seluruh belahan dunia.

Sedangkan Tarekat berasal dari bahasa Arab thariqah, jamaknya tharaiq, yang berarti: (1) jalan atau petunjuk jalan atau cara, (2) Metode, system (al-uslub), (3) mazhab, aliran, haluan (al-mazhab), (4) keadaan (al-halah), (5) tiang tempat berteduh, tongkat, payung (amud al-mizalah).
Menurut Al-Jurjani Ali bin Muhammad bin Ali (740-816 M), tarekat ialah metode khusus yang dipakai oleh salik (para penempuh jalan) menuju Allah Taala melalui tahapan-tahapan/maqamat.

Tarekat memiliki dua pengertian, pertama ia berarti metode pemberian bimbingan spiritual kepada individu dalam mengarahkan kehidupannya menuju kedekatan diri dengan Tuhan. Kedua, tarekat sebagai persaudaraan kaum sufi (sufi brotherhood) yang ditandai dengan adannya lembaga formal seperti zawiyah, ribath, atau khanaqah.

Tarekat itu mempunyai tiga sistem, yaitu: sistem kerahasiaan, sistem kekerabatan (persaudaraan) dan sistem hirarki seperti khalifah tawajjuh atau khalifah suluk, syekh atau mursyid, wali atau qutub. Kedudukan guru tarekat diperkokoh dengan ajaran wasilah dan silsilah. Keyakinan berwasilah dengan guru dipererat dengan kepercayaan karamah, barakah atau syafah atau limpahan pertolongan dari guru.

Pengertian diatas menunjukkan Tarekat sebagai cabang atau aliran dalam paham tasawuf. Pengertian itu dapat ditemukan pada Tarekat Qadiriyah, Tarekat Naksabandiyah, Tarekat Rifa’iah, Tarekat Samaniyah dll. Untuk di Indonesia ada juga yang menggunakan kata tarekat sebagai sebutan atau nama paham mistik yang dianutnya, dan tidak ada hubungannya secara langsung dengan paham tasawuf yang semula atau dengan tarekat besar dan kenamaan. Misalnya Tarekat Sulaiman Gayam (Bogor), Tarekat Khalawatiah Yusuf (Suawesi Selatan) boleh dikatakan hanya meminjam sebutannya saja.

Jika dirinci secara akurat, sebenarnya jumlah tarekat dalam dunia Islam amat besar. Beberapa contoh tarekat dalam beberapa negara dan beberapa ciri mereka yang khas. Pertama tarekat “kota” ialah Qadariyah, yang dinamakan menurut Abd al-Qadir al-Jilani (1077-1166). Beliau asal mulanya seorang ahli bahasa dan ahli hukum Hambali. Karena beliau amat digemari sebagai guru di Baghdad, khalayak ramai mendirikan sebuah ribat untuk beliau di luar pintu kota. Pemimpin tarekat dan pemelihara makamnya di Baghdad masih keturunan langsung Syekh Abd al-Qadir al-Jilani. Pada akhir abad kesembilan belas terdapatlah jumlah besar dari cabang-cabang tarekat ini yang meliputi Maroko hingga Indonesia –yang hanya secara kendur hubungannya dengan lembaga pusat di Baghdad– yang tiap-tiap tahun tetap menjadi tempat ziarah.

Thariqah Qadiriyah Naqsabandiyah adalah perpaduan dari dua buah tarekat besar, yaitu Thariqah Qadiriyah dan Thariqah Naqsabandiyah. Pendiri tarekat baru ini adalah seorang Sufi Syaikh besar Masjid Al-Haram di Makkah al-Mukarramah bernama Syaikh Ahmad Khatib Ibn Abd.Ghaffar al-Sambasi al-Jawi.. Beliau adalah seorang ulama besar dari Indonesia yang tinggal sampai akhir hayatnya di Makkah. Syaikh Ahmad Khatib adalah mursyid Thariqah Qadiriyah, di samping juga mursyid dalam Thariqah Naqsabandiyah. Tetapi ia hanya menyebutkan silsilah tarekatnya dari sanad Thariqah Qadiriyah saja. Sampai sekarang belum diketemukan secara pasti dari sanad mana beliau menerima bai’at Thariqah Naqsabandiyah.

Pada tahun 1957, Jam’iyyah Ahl Thariqah Mu’tabarah didirikan oleh Nahdlatul Ulama, pada saat itu masih berbentuk partai. Tujuannya adalah untuk menyatukan semua kekuatan Thariqat dan memelihara silsilah yang dimulai dari Nabi Muhammad Saw. Jam’iyyah ini memelihara dan mengajarkan ajaran tasawuf dari 45 kekuatan Thariqat yang pernah ada pada tahun 1975. Syaikh Mustain Romly dari Rejoso diangkat sebagai pimpinan Jam’iyyah ini. Pada tahun 1979, ketika Syaikh Mustain Romli merubah afiliansinya dari Partai Persatuan Pembangunan ke GOLKAR, para Ulama mendirikan Jam’iyyah Ahl al-Thariqah al-Nahdliyyah, Pimpinan Jam’iyyah ini adalah Syaikh Haji DR. Idham Kholid, dimana pada saat itu pernah menyambut kedatangan Syaikh Muhammad Hisham Kabbani pada bulan Desember 1977.

Berbagai bentuk tarekat yang diamalkan oleh umat Islam di seluruh dunia, semua merujuk dari ilmu dan amalan dzikrullah yang pernah diajarkan oleh Rasulullah SAW kepada sejumlah sahabat secara khusus sehingga timbul kemudian ajaran tasawwuf. Mulanya terdapat dua jenis dzikrullah; yakni dzikir darajat dan dzikir hasanat. Selaras dengan perkembangan zaman, kemudian muncul bermacam-macam jenis tarekat, seperti; Naqshabandiyah, Qadiriyah, Satariyah, Shadhaliyah, Rifi’iyah, dan sebagainya lagi.  Berbagai aliran tarekat tersebut pergerakannya juga mengikuti alur madzhab empat; Hanafi, maliki, Shafi’e dan Hanbali.

Demikian sekilas untaian tentang sufistik, tasawuf, dan tarekat yang dapat disimpulkan, perlu diingat bahwa pertumbuhan jamaah tarekat yang dibimbing para mursyid hingga kini  kian pesat, bahkan dalam perkembangannya kemudian banyak jam’iyyah tarekat yang bersentuhan dengan dunia politik di masing-masing negara. Nahdlatul Ulama sebagai organisasi keagaaam Islam terbesar di Indonesia juga telah memberikan payung bagi tumbuh suburnya tarekat, berbagai tarekat di lingkungan NU lalu diikat dalam satu atap yang diberi nama Jam’iyyah Ahli Thariqat Al-Mu’tabarah An-Nahdliyyah. Jam’iyyah ini sekarang dipimpin oleh KH.Habib Luthfi dari Pekalongan. Wahyudin Ghazali

SEGALA YANG 4 (SILAT MINANG)

Silat Kumango Dan Filosofi Minangkabau

Silat atau biasa di sebut silek dalam dialek minangkabau adalah seni beladiri masyarakat minang yang juga berperan dalam mendidik manusia minangkabau untuk menjadi manusia yang mempunyai ketinggian baik lahir maupun batin (urang nan sabana urang/manusia yang sebenarnya manusia). Karena dalam tradisi silek minang tidak hanya di ajarkan untuk membela diri dalam bentuk belajar serangan atau hindaran, tapi juga di isi dengan materi-materi yang penuh filosofi yang di simbolkan dalam aplikasi gerakan silat.

Menurut beberapa penelitian di sebutkan bahwa silek minang adalah hasil kolaborasi dari aliran silat di jaman minang kuno dahulu yang di sebut gayuang dengan beladiri dari luar minang, antara lain Harimau Campa, Kuciang Siam, Kambing Hutan, dan Silat Anjing Mualim dari Persia. Oleh Datuk Suri Dirajo semua unsur itu di rangkum menjadi satu aliran yang di sebut Silek Usali atau biasa di sebut Silek Tuo.

Silek Tuo ini memiliki gerakan yang sederhana, sehingga banyak pandeka – pandeka minang yang memodifikasi gerakan-gerakannya sesuai dengan pengetahuannya masing-masing, dan di beri nama sesuai dengan tempat asal silat tersebut atau kemiripan gerakan tersebut dengan alam sekitarnya (alam takambang manjadi guru), sehingga akhirnya banyak varian-varian silat minangkabau seperti silek lintau, silek pauh, silek sungai patai, silek kumango (berdasarkan lokasi), silek buayo, silek harimau, silek kuciang bagaluik, silek baringin (nama hewan/tumbuhan), silek starlak, silek sentak (berdasarkan gerakan) dll

Dari sekian banyak jenis silek yang terdapat di minangkabau itu, di kabupaten Tanah Datar tepatnya di kampung kumango, merupakan tempat asal silek yang di sebut silek kumango. Silek kumango merupakan salah satu aliran silek yang termuda, dan juga merupakan salah satu silek minang yang tumbuh berasal dari lingkungan surau. Silek Kumango di kembangkan oleh Syekh Abdurahman Al Khalidi yang merupakan mursyid Tarekat Samaniyah yang melakukan aktifitasnya di Surau Kumango. Perlu diketahui, Surau Syekh Kumango ini adalah salah satu tonggak penting dalam penyebaran tarekat khususnya tarekat samaniyah di minangkabau. Banyak orang yang datang untuk mengambil baiat tarekat ke Surau Kumango ini, dan sampai saat ini pun Surau Seykh Kumango menjadi pusat ziarah bagi para murid tarekat samaniyah yang ada di minangkabau, malaysia, kalimantan, dan sekitarnya.

Nama kecil Syekh Abdurahman Al Khalidi Kumango adalah Alam Basifat, sejak kecil Alam sudah di kenal sebagai parewa (preman), dan akhirnya belajar mengaji dan mengkaji termasuk ilmu tarekat. Cabang tarekat yang dikuasainya adalah Tarekat Samaniyah, Naqsyabandiyah dan Syatariyah, namun yang di ajarkannya kepada masyarakat dari Surau Kumango adalah Tarekat Samaniyah. Bakat parewa Syekh Abdurahman ini rupanya di salurkan dalam bentuk ilmu silat, yang dikemudian hari di kenal sebagai silat kumango.

Saat ini silek kumango di pimpin oleh Guru Gadang Lazuardi Malin Maradjo, di bantu oleh beberapa asistennya yang di sebut Guru Tuo, antara lain Uda Lesmandri, yang juga seorang praktisi tari kontemporer yang berbasis Silek Kumango.

Filosofi dalam silek kumango antara lain dimulai pada saat penerimaan murid baru (mangangkat anak sasian) yang di wajibkan untuk memenuhi syarat-syarat tertentu yang di sebut manatiang syaraik (mengangkat syarat/sumpah), yaitu dengan membawa barang2 tertentu:

1. membao lado jo garam (membawa cabai dan garam) –>merupakan simbol agar ilmu yang diperoleh akan melebihi pedasnya cabai dan asinnya garam
2. pisau tumpul–> sebagai simbol bahwa murid yang baru datang di ibaratkan sebagai pisau tumpul yang akan di asah di sasaran agar menjadi tajam
3. kain putiah/kain kafan–>simbol kepasrahan kepada Sang Khalik agar selalu siap utk kembali kepadaNya
4. jarum panjaik jo banang–>simbol efisiensi, hemat dan tidak boros
5. bareh sacupak–>simbol utk bekal agar mandiri
6. ayam batino–>ayam ini biasanya dipelihara di rumah guru dan telurnya di ambil utk dimakan bersama-sama

Sebagai mana sebagian besar silek minang lainnya, dalam pola langkahnya silek kumango juga menganut sistem langkah nan ampek (langkah empat). Pola langkah empat ini pada dasarnya adalah membagi ruang di sekeliling kita menjadi empat bagian, depan, belakang, kiri dan kanan. Pola ini banyak di temui di banyak aliran beladiri lainnya. Dalam silek kumango langkah ampek ni di simbolkan sebagai langkah Alif, Lam, Lam, Ha dan Mim, Ha, Mim, Dal, yang merupakan huruf hijaiyah dalam kalimah Allah dan Muhammad.

Langkah nan ampek ini adalah bagian dari pituah pituah filosofis urang minang yang biasa di sebut sagalo nan ampek. Dalam menghadapi orang atau anak yang susah untuk di atur, para orang tua minang suka mengatakan mengatakan “indak tau nan ampek” kepada anak2nya, tidak tahu yang empat, artinya itu adalah sindiran bahwa ia tak tau tentang yang empat itu.

Ampek macam batang aka
Partamo syariaik
Kaduo tarikaik
Katigo hakikaik
Kaampek makripaik

Urang nan ampek golongan
Partamo niniak mamak
Kaduo cadiak pandai
Katigo alim ulamo
Kaampek bundo kanduang

Adaik nan ampek
Partamo adaik nan sabana adaik
Kaduo adaik nan diadaikkan
Katigo adaik nan taradaik
Kaampek adaik istiadaik

Langkah nan ampek ini juga di simbolkan dengan sifat dari Nabi Muhammad SAW, yaitu Siddik, Tabligh, Amanah dan Fatonah. Dan banyak lagi filosofi minang yang terangkum dalam sagalo nan ampek.

Dari sisi ilmu batin, langkah nan ampek ini juga merupakan simbol dari nafsu manusia yang terdiri dari nafsu ammarah, lawwamah, sufiyah dan muthmainah. Dan ini juga merupakan awal dari ilmu untuk mencari saudara batin guna mencari DIRI yang sejati. Ini mirip dengan pemahaman sedulur papat lima pancer yang ada di tanah jawa. Sehingga pada akhirnya nanti akan menemukan jati diri manusia yang benar-benar MANUSIA. Ada empat tingkatan jenis manusia menurut pemahaman minangkabau yang juga terangkum dalam empat bagian, yaitu : urang, urang nan takka urang, urang nan ka jadi urang, urang nan sabana urang.

Selain langkah ampek, dikenal dalam silek minang juga dikenal filosofi langkah tigo, yang memiliki muatan filosofis serupa dengan langkah nan ampek, namun bila langkah ampek memiliki muatan agamis, sebaliknya langkah tigo memiliki muatan adat, yang menjadi landasan dalam pola pikir masyarakat minangkabau, termasuk dalam seni sileknya.

Adat babarih babalabeh
Baukua jo bajangko
Tungku nan tigo sajarangan
Patamo banamo alua jo patuik
Kaduo banamo anggo tanggo
Katigo banamo raso pareso

Alua jo patuik (alur dan kepatutan/kepantasan) secara singkat adalah logika, anggo tanggo (anggaran tangga) kedisiplinan, raso jo pareso (rasa dan periksa) adalah perasaan/olah rasa dan ketelitian/periksa.

Aplikasinya dalam ilmu silek adalah bahwa silek itu haruslah bersesuaian dengan ilmu pengetahuan/logika/masuk di akal, dalam mempelajarinya diperlukan kedisiplinan, dan terakhir yang tak kalah penting adalah pengolahan rasa untuk mempertajam gerakannya.

Dalam silek kumango, pengaruh sufistik dari Syekh Abdurahman juga tampak dalam filosofi, bahwa setiap serangan haruslah dielakan terlebih dahulu. Tidak tanggung-tanggung bukan sekali di elakan, melainkan di elakan sebanyak empat kali.
Elakan pertama di simbolkan sebagai elakan mande, dalam menghadapi serangan pertama dari seorang musuh, harus di elakan, dianggap nasihat dari seorang ibu kepada anaknya, jadi kita wajib memahaminya dan bukan melawannya.
Elakan kedua di simbolkan sebagai elakan ayah, jadi harus dipahami dan bukan dilawan.
Elakan ke tiga di simbolkan sebagai elakan guru, kita harus mengumpamakan bahwa itu adalah seorang guru yang sedang marah kepada kita sehingga wajib di pahami dan tidak dilawan dengan cara mengelakan serangannya,
Elakan keempat di simbolkan sebagai elakan kawan, yaitu di artikan bahwa itu adalah seorang kawan yang hendak bermain-main kepada kita sehingga harus kita pahami dan dalam gerakan silat harus kita elakan.
Baru pada serangan kelimalah seorang pesilat kumango dapat melakukan gerakan perlawanan, karena pada serangan kelima ini di ibaratkan si penyerang sudah bersama setan, sehingga wajib bagi kita untuk menyadarkannya, dalam aplikasi gerakan silat ini bisa dilakukan dengan gerakan serangan berupa pukulan atau sapuan kaki yang diakhiri dengan kuncian, dengan catatan bahwa serangan dari kita hendaknya tidak boleh sampai mencederai lawan, dan bahkan apabila lawan sampai kesakitan, minta maaf adalah hal yang patut dilakukan.

Dalam diskusi silat kumango beberapa waktu lalu di padepokan TMII yang diprakarsai oleh rekan2 sahabat silat (www.sahabatsilat.com) , ada seorang peserta yang menanyakan bagaimana aplikasi silek kumango dalam menghadapi lawan yang berada di bawah (jatuh atau menjatuhkan diri), misalnya saja dalam menghadapi seorang ahli gulat/grappling, ternyata dalam filosofi silek kumango di sarankan untuk tidak menyerang lawan yang posisinya sudah berada di bawah.

Dalam pepatah minang ini di simbolkan dengan “alah kanyang ka tambah” sudah kenyang masih mau nambah, maka yang terjadi adalah hilanglah rasa kenyang dan tibul rasa sakit perut. Karena lawan yang berada di bawah di posisikan sebagai lawan yang sudah jatuh, nah menyerang lawan yang sudah kita jatuhkan bisa mengakibatkan posisi kita malah menjadi lemah, maka sebaiknya di biarkan lawan sampai bisa berdiri kembali.

Jurus Silat Kumango :
1. Elakan (kiri luar, dalam)
2. Elakan (kanan luar, dalam)
3. Sambut Pisau
4. Rambah
5. Cancang
6. Ampang
7. Lantak Siku
8. Patah Tabu
9. Sandang
10. Ucak Tanggung
11. Ucak Lapeh

Dalam permainan silek kumango tidak dikenal permainan senjata, kecuali dalam kembangan yang berbentuk tarian. Sebagai silek yang berasal dari budaya surau, maka senjata yang dikenal dalam silek kumango adalah sarung. Jadi selain sebagai alat untuk beribadah, sarung juga merupakan senjata yang dapat di andalkan. Dalam diskusi silat kemarin itu Guru Gadang Amak Ar juga memperagakan gerakan beladiri dengan mempergunakan senjata sarung.

Demikianlah sekilas tentang silek kumango, yang selain berguna dalam fungsi pembelaadi diri, juga berperan dalam pembentukan moral manusia minang. Didalam silek ini banyak sekali pituah pituah urang minang dengan arti yang sangat dalam. Sangat di sayangkan kalau budaya ini sampai hilang di telan zaman.

Usang usang di pabarui
Nan lapuak di kajangi
Nan senteng di bilai
Nan taserak di kumpuekan
Nan hanyuik di pintehi
Nan takalok di jagokan
Nan hilang di cari

KH Muhammad Zen Syukri: Simbol Eksistensi NU Sumatera Selatan

KH Muhammad Zen Syukri: Simbol Eksistensi NU Sumatera Selatan

KH MUHAMMAD ZEN SYUKRI

BUYA ZEN SYUKRI

Pengantar

Budaya besar akan melahirkan tokoh besar, selanjutnya tokoh besar akan melahirkan karya-karya besar. Palembang dengan kerajaan Sriwijayanya merupakan kerajaan besar dan pusat peradaban besar Nusantara pada abad VII masehi. Saat itu Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dunia, juga menjadi pusat pengajaran Budha yang paling berwibawa. Demikian halnya pada masa Kerajaan Palembang Darussalam, hubungan Palembang dengan kerajaan Demak sangat erat, baik yang bersifat politik maupun budaya, perdagangan serta keagamaan, sehingga banyak ulama besar lahir pada periode itu dari Palembang. Apalagi mereka percaya bahwa raden Patah Raja Demak berasal dari Palembang dan masih banyak yang merasa sebagai keturunan sang raja itu. Ulama besar palembang antara lain Faqih Jalaluddin, Syihabuddin Abdullah, Syekh Muhyiddin lalu Syekh Kiemas Muhammad, dan yang paling terkenal hingga sekarang dana ajarannya masih terus diamalkan adalah Syaikh Abdushomad Al Palimbani (1704-1775).

Mereka semuanya adalah menganut Islam Sunni Syafii selain itu juga gigih menyebarkan Tarekat Samaniyah, sehingga memiliki pengikut yang cukup luas, tidak hanya di Palembang bahkan hampir di seluruh Sumatera. Tradisi bermazbah serta tarekat itu diajarkan secara turun menurun pada para ulama yang selama ini belajar di Mekah pada ulama Palembang yang bermukim di sana seperti KH Sahruddin, KH Abdul Aziz dan sebagainya. Kemudian juga dikembangkan oleh para ulama di pesantren setempat hingga sampai pada Kiai Zen Syukri yang masih ada sekarang ini. Ketokohan Kiai Zen Syukri tidak hanya dalam bidang agama, tetapi punya pengaruh yang sangat luas, baik secara social maupun politik, sehingga ia selalu menjadi tumpuan harapan para elite politik local maupun nasional.

Sebelum menjadi Presiden baik Abdurrahman Wahid, Megawati dan terutama Suisilo Bambang Yudoyono selalu meminta restu dan dukungan pada kiai sepuh Palembang itu, yang masing-masing punya ikatan historis tersendiri. Gus Dur karena Kiai Zen Syukri merupakan murid KH Hasyim Asy’ari kakenya, serta sebagai Musytasyar NU Palembang. Hubungan dengan Mega melalui Taufik Kiemas adalah sesama berasal dari Palembang sehinga, punya hubungan dekat. Sementara dengan SBY, karena selama ini SBY pernah menjadi Pangdam Sriwijaya yang bermarkas di Palembang, selama ini keduanya sudah menjalin kerjasama dalam menjaga ketertiban dan keamanan daerah.

 Luasnya pengarus itu tidak lain karena kaharisma yang dimiliki sang kiai, yang karena memiliki kualitas spiritual yang tinggi, intelektualitas yang matang, serta integritas moral yang kuat, juga pengabdian pada kepentingan agama dan masyarakat yang tak kenal lelah, sehingga mau melayani umat yang paling bawah hingga para pejabat, tanpa membedakan status dan jabatannya. Maka tidak aneh hingga sekarang ini dianggap tokoh paling dihormati, selain karena usianya yang paling tua juga keilmuannya paling terkemuka, terbukti dengan karya-karya pemikirannya yang sangat produktif, sebagaimana dilakuakan para ulama Palembang terdahulu. Masa Pembentukan.

Zen Syukri yang lahir pada 1919 itu hidup di lingkungan keluarga Islam santri yang tergolong kelas menengah Palembang pada zamannya, karena itu ia memperoleh pendidikan yang memadai, terutama dalam bidang agama. Walaupun keluarganya mampu menyekolahkan ke sekolah Belanda, tetapi orang tunya melarang sekolah dan mempelajari bahasa kolonial itu, akhirnya ia hanya belajar di madrasah Ibtidaiyah Hingga tamat Tsanawiyah pada tahun 1935. Setamat Tsanawiyah umunya masyarakat yang mampu, akan mengirim anaknya ke Mekah, demikian pula keinginan keluarga Zen, tetapi setelah dilakukan istikhoroh, ayahnya melarang kepergian anaknya ke Tanah Suci. Tentu saja Zen kecewa dan malu karena tetangga sudah terlanjur tahu rencana itu, bahkan tetangga menyindir gagalnya keberangkatan itu. Tetapi ayahnya menasehatkan bahwa belajar agama di mana-mana sama saja, toh nanti di Mekah akan berguru pada para ulama Nusantara juga.

Sementara di Indonesia sudah banyak ulama yang alim. Zen paham akan nasehat ayahnya, tetapi tidak bisa menutup telinga terhadap sindiran tetangganya, akhirnya tanpa sepengetahuan orang tua ia menjual sepeda untuk pergi merantau belajar agama. Pesantren yang dituju adalah Tebuireng Jombang, sebab ia pernah mendapatkan cerita dari gurunya yakni Syekh Muhamamad Salim Alkaf, seorang Rois Suriyah NU dan salah seorang pendiri NU Palembang, yang telah mengenal kebesaran pesantren itu.Dengan berbekal uang secukupnya itu ia naik kereta api ke Lampung kemudian menyeberang ke Batavia (Jakarta).

 Perjalanan yang begitu panjang itu dengan sendirinya menipiskan pesangon, sehingga terpaksa ia menjadi buruh di sebuah penerbitan sebagai pemotong koran. Perjalanan ke Jawa Timur dilanjutkan setelah memperoleh pesangon dari hasil kerja selama beberapa bulan. Tetapi ternyata sangu yang dimiliki hanya cukup untuk perjalanan sampai di Jawa tengah, tepatnya di daerah Tegal, akhirnya ia tidak membuang waktu lalu meneruskan belajar ke sebuah pesantren di daerah itu selama satu tahun yakni 1936.

Karena tujuan utamanya adalah pesantren Tebuireng maka selama nyantri di Tegal ia menjadi khadam kiai, selain itu juga sambil bekerja sebagai pembantu dan kuli, sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan ke Tebuireng. Setelah setahun di pesantren itu dan ketika perbekalan cukup, maka pada tahun 1937 ia berangkat ke Tebuireng, tetapi sesampai di pondok uang itu segera habis, akhirnya untuk melaksanakan cita-citanya belajar pada ulama alim ditempuh dengan cara mengabdi kepada kiai yaitu kiai Hasyim Asy’ari sebagai khodam (pelayan) yang mengurus rumah tangga dan menyiapkan pengajian Kiai.

Ternyata di sana juga sudah banyak khodam, tetapi kemauan Zen Syukri tetap diterima oleh Kiai Hasyim Asy’ari, dengan demikian cita-cita untuk mempelajari agama berhasil dilaksanakan. Ketika kebutuhan sehari-hari bisa diatasi, tetapi kebutuhan mendapatkan kitab masih harus ditanggung sendiri, sementara uang tidak pernah punya, akhirnya Zen mengakali dengan cara meminjam kitab lalu disalinnya dengan menggunakan tulisan tangan pada sebuah buku tulis. Dengan cara itu dua hal diperoleh, pertama mampu menulis dengan baik, kedua bisa memperoleh kitab dengan cara murah dan langsung bisa mendalami isi kitab. Bahkan ketika tidak lagi punya buku dan tinta, kitab temannya dipinjam untuk dihapal.

Kiai Hasyim dikenal sangat disiplin dalam mengajar, setiap hari ia berkomunikasi dengan bahasa Arab, tidak hanya dengan para kiai, tetapi dengan para puteranya juga menggunakan bahasa Quran itu. Demikian pula santri diwajibkan berbahas Arab, kalau melanggar dihukum gundul. Sebagai pendatang baru Zen Syukri, walupun telah menguasai bahasa itu secara pasif, tetapi belum mahir menggunakan dalam percakapan sehari-hari. Pada suatu ketika pernah ketahuan tidak berbahasa Arab ia langsung digunduli dan diarak keliling pesantren. Peristiwa memalukan itu yang membuatnya terpacu untuk mepelajari bahasa Arab lebih tekun. Dengan ketekunannya ia mendapatkan perhatian istimewa dari Kiai Hasyim, karena itu ia selalu diajak sang Guru untuk melakukan pengajian keliling di sekitar Jombang, sebagai pembawa kitab, serta membatu semua keperluan Gurunya.

Dari situ sebenarnya Zen banyak belajar, tidak hanya etika di pesantren, tetapi ketika sang guru melayani masyarakat, memberikan pengajian di masjid di pesantren lain atau ketika ketemu dan bermusyawarah dengan para kiai lainnya. Selain itu ia juga berguru kepada kiai yang lain yaitu Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Sansuri. Dengan cara belajar yang ekstensif yakni belajar dengan siapa saja di mana saja, dan sangat intensif, yakni dengan ketekunannya yang luar biasa, maka hanya dalam waktu tiga tahun ia telah berhasil menamatkan pengajian berbagai kitab dan sekaligus menguasai keilmuan yang dipelajari.

Akhirnya Kiai Hasyim rela melepaskan santri kesayangannya itu untuk kembali kekampung halaman tahun 1939, untuk mengembangkan ajaran ahlusunnah di daerahnya serta untuk turut menggerakkan NU di kawasan Sumatera itu. Selama melakukan pelepasan, pesan yang disampaikan Kiai Hasyim hanyalah sebuah peringatan. Namamu hanya Muhamamad Zen Syukri , tanpa gelar apa-apa , hanya gelar Abdullah (hamba Allah), yang patut diharapkan dari Allah.

Pesan itu hanya bisa dipahami dalam konteks kultur Palembang yang sangat hirarkis dengan gelar kebangsawanannya, sejak dari Kiemas, Kiagus hingga Masagus. Gelar yang berakibat membawa friksi social itu yang dicegah oleh Kiai Hasyim untuk dipakai, agar Zen Syukri bisa bergaul dan bekerja sama dengan semua pihak terutama rakyat kecil, tanpa batasan kelas dan derajat kebangsawanan yang ketat. Dengan tanpa gelar itu Zen Syukri bisa bergaul pada semua orang tanpa hambatan gelar kebangsawanan yang sebenarnya layak ia sandang. Berkiprah di daerah Sebagai kader ulama pesantren, maka ketika sampai kembali ke kampung halaman, yang dilakukan adalah bergabung dengan organisasi NU di Palembang.

Sebagai salah seorang santri Tebuireng apalagi sebagai murid Kiai Hasyim Asy’ari, maka ia mendapat posisi terhormat di pengurusan NU Palembang, yang dianggap telah mewarisi tradisi ke-NU-an yang memadai, karena itu walaupun usianya masih relatif muda yakni 21 tahun ia dikukuhkan sebagai sekertaris NU cabang Palembang. Dengan organisasi yang dikelolanya itu ia tidak hanya mampu menagajarkan ilmu agamnya, tetapi juga pengalaman berorganisasi selama di Tebuireng juga bisa diterapkan di daerahnya, sehingga NU Palembang terus-mencapai kemajuan. Maka pada tahu 1943 ia dipilih sebagai Ketua Tanfidziyah NU Cabang Palembang.

Sebagaimana gurunya, Kiai Hasyim Asy’ari, ia juga rajin mengadakan pengajian ke berbagai pelosok daerah, sebagai seorang murid Tebuireng ia menguasai Hadits dengan sangat baik, demikian juga ia banyak belajar ilmu taswawuf, sehingga dakwahnya diminati banyak orang. Walaupun ia tidak pernah belajar di Mekah tetapi keilmuannya dianggap masyarakat cukup mendalam dan disegani, sehingga pengikutnya juga sangat banyak. Kenyataan itu tidak bisa dipungkiri kalangan ulama senior Palembang termasuk para gurunya, Maka ia dipercaya menjadi kepala Perguruan Ahliyah pada tahun 1942.

Dengan dedikasi dan kedalaman ilmunya itu, maka pada tahun 1950 ia mendapat penghormatan sebagai pengajar di Masjid Agung Palembang, sebuah Masjid Peninggalan Kerajaan Palembang Darussalam, yang dalam menseleksi para kiai sangat ketat, sehingga tidak mudah seseorang bisa diterima sebagai pengajar di Masjid Agung tersebut kalau tidak benar-benar mumpuni keilmuannya. Di situ ia bertugas mengajaran fikih, tauhid dan terutama tasawuf, ini merupakan prestasi keulamaan yang besar yang capainya, sebab tidak sembarangan ulama bisa mencapai prestasi ini. Mesjid ini merupakan Warisan Kesultanan Palembang, sebagai pusat pengembangan Islam Ahlussunnah Waljamaah.

Akhirnya Zen Sayukri menjadi pemimpin tertinggi serta imam Masjid Agung itu hingga sekarang. Dengan demikian paham ahlusuunnah bisa terus dikembangkan. Dukungan yang diberikan kalangan ulama Sunni-Syafii serta para saudagar yang ada di kota itu pada NU sangat kuat, sehingga perkembangan NU di wilayah itu sangat pesat. Pesatnya perkembangan itu terbukti tidak lama kemudian Palembang sudah siap menyelenggarakan Muktamar NU yang ke 19 Bulan April tahun 1952 dengan hasil yang monumental, yakni keputusan keluarnya NU dari Masyumi dan berdiri sebagai partai tersendiri, setelah bertahun-tahun ditipu oleh kelompok intelektual dalam partai Islam itu. Dari situ kemudian NU menjadi partai politik tersendiri, yang dalam Pemilu 1955 menjadi salah satu partai terbesar ketiga bersama PNI, Masyumi dan PKI.

Penyelenggaraan acara itu cukup sukses berkat dukungan finansial dari para pengusaha NU setempat, sehingga para peserta sangat terkesan dengan perkembangan NU di wilayah itu. Keaktifan dalam mengkelola Masjid Agung itu tidak menghambat aktivitasnya di NU, bahkan karirnya terus menanjak dari Cabang menjadi pengurus NU Wilayah Sumatera Selatan. Kemudian terpilih menjadi pemimpin tertinggi NU di daerah itu sebagai Rais Syuriah NU Wilayah selama tiga periode yakni dari 1984 hingga 1999. Bahkan sempat terpih sebagai salah seorang Musytasyar PBNU, kemudian atas ketokohannya juga ia dipilih sebagai anggota MPR sebagai wakil daerah. Sampai sekarang masih menjadi Musytasyar NU Wilayah, mengingat keseniorannya, maka perannya di NU juga masih sangat besar.

Karena itu keberadaannya menjadi symbol eksistensi NU di daerah itu. Pergumulan Pemikiran Keagamaan. Sejak hadirnya Islam Wahabi Dunia tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu mengahalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafii yang sudah mapan. Tidak terkecuali pergolakan yang dibawa para perantau dari Minagkabau tersebut juga berkobar di Palembang Hadirnya pemikiran Wahabi itu tidak pelak lagi mengguncang pemahaman keagamaan kaum Sunni Palembang, sehingga mereka juga banyak merespon dan menolak cara berpikir serta pemahaman yang puritan dan intoleran tersebut. Ajaran tarekat diserang habis-habisan, doa qunut serta talkin dianggab bid’ah, demikian juga dziba dan tahlil dilarang.

Seperti kaum Sunni pada umumnya masyarakat Islam Palembang menghendaki pemahaman agama yang toleran pada tradisi dan menghargai warisan para ulama klasik. Karena itu masyarakat sangat resisten terhadap cara pandang Wahabi karena dianggap tidak sesuai dengan alam Palembang yang harmoni, sesuai dengan tradisi yang telah berkembang yang ternyata membawa banyak kemaslahatan, sehingga gerakan Wahabi itu juga segera padam tersiram oleh air kehidupan masyarakat yang damai. Kaum Sunni mempertahankan pemahamannya bukan karena fanatisisme, tetapi semata ingin menciptakan toleransi dan suasana harmoni. Walaupun perdebatan itu terjadi sejak awal abad ke-19 namun riaknya kadang juga tersisa hingga beberapa waktu kemudian.

Terbukti pada saat Kiai Zen Syukri menerbitkan bukunya yang berjudul Risalah Tauhid, pada tahun 1962 yang mengungkapkan tentang pendirian tauhid mazbah Sunni Asy’ari, mendapat tantangan keras dai kelompok Wahabi. Bahkan penulis buku itu diajukan kemeja hijau, kemudian buku tersebut dilarang beredar, karena menyesatkan umat. Pada pengadilan itu Zen Syukri bisa berargumen sangat meyakinkan hingga tidak ada pilihan lain bagi pengadilan daerah kecuali memenangkan perkara akhirnya ia dibebaskan. Para penunut Wahabi tidak puas, lalu mengajukan ke pengadilan nasional, di situ Zen Syukri berhadapan dengan tokoh Muhammadiyah terkemuka seperti KH Farid Ma’ruf, Hamka, Sullam Hadi dan sebagainya. Tetapi sekali lagi pengarang murid Kiai Hasyim Asy’ari itu memenangkan perdebatan. Bahkan Hamka sendiri setelah mendengar akurasi dan kefasihan hujjah Kiai Zen Syukri, akhirnya ia mengakui kebenaran apa yang ditulis sang pengarang, sehingga perdebatan ditutup dengan kemenangan Zen Syukri. Akhirnya Menteri Agama KH Wahib Wahab dari NU, menetapkan keabsahan buku tersebut, melalui SK No. 1152/52/831/62. Akibatnya buku tersebut kembali bisa beredar luas, bahkan lebih diminati orang dibanding sebelum dihebohkan dan pengarangnya juga semakin tenar.

Hampir semua tulisan Kiai Zen Syukri berkaitan dengan persoalan fikih tauhid dan tasawuf, dan nada tulisannya lebih bersifat mendidik dan jauh dari aplogetik apalagi polemik. Karena merasa tidak ingin membuang waktu berdebat dengan kelompok Wahabi, sebaliknya hanya ingin membimbing umat. Bahkan beberapa tema sama dengan tema kaum Wahabi seperti Risalah Tauhid, Bahaya Syirik dan sebagainya. Hal itu menunjukkan bahwa kaum sunni walaupun toleran dengan adat dan tradisi masyarakat setempat, tetapi tetap menjaga keutuhan ajaran Islam, tidak seperti yang dituduhkan kalangan Wahabi yang menganggap kalangan Syafiiyah telah terjerumus pada perbuatan syirik ketika mengapresiasi tradisi.

Karena itu terbitnya buku Melepaskan Diri dari Bahaya Syirik tahun 1964 itu seolah membungkam cacian kelompok Wahabi bahwa NU melalui tarekat dan tahlil itu menyebarkan kemusyrikan. Karena perbedaan antara tauhid dan musyrik dipaparkan dengan jelas dalam bukunya itu.

Kiprah di Hari Tua

Kedalaman keilmuannya serta keuletan semangatnya, maka hingga dalam usia yang lanjut Kiai NU itu masih saja melakukan aktivitas keagamaan serta social. Setiap hari memberikan ceramah di berbagai tempat, dan khusus hari Ahad pagi memberikan pengajian umum di Masjid Agung Palembang, yang telah dilakukan sejak tahun 1950-an, tetap ditekuni hingga saat ini. Ceramah pagi itu dihadiri ratusan jemaah dari berbagai daerah, baik kalangan pejabat maupun rakyat biasa.

Selain itu setiap pagi dari jam 5 sampai jam 10 siang masih melayani umat yang sowan meminta petunjuk tentang berbagai persoalan kehidupan hingga soal kesehatan. Masyarakat setiap hari datang berduyun, mengantri didepan rumah menunggu nasehat sang Kiai. Biasanya pulang dibawai air putih yang telah didoai, terkadang mereka diberi tulisan doa tertentu yang harus dibaca agar persoalan yang dihadapi cepat selesai. Meraka datang tanpa di pungut biaya, terserah mau memberi semampunya. Kalau membeli sesuatu seperti buku yang dikarang oleh sang kiai baru diharuskan membayar.

Layanan social yang diberikannya itu membuat sang Kiai menjadi tokoh yang dekat dan disegani masyarakat dan menjadi panutan mereka. Oleh karena itu tidak satupun politisi local yang ingin memperoleh kekuasaan tanpa merebut legitimasi darinya, sejak dari Abdurrahman Wahid, Megawati maupun Susilo Bambang Yudoyono. Apalagi para politisi local yang ingin meraih jabatan di daerah restu Kiai sepuh itu sudah menjadi keharusan yang tidak pernah mereka tinggalkan. Bahkan para pejabat militer yang ditugaskan di situ baik Komandan Kodim, Komandan Korem atau Pangdam selalu terlebih dulu sowan kepada ulama asli Palembang itu untuk meminta restu. Kalangan perguruan tinggi juga sangat menghormati preastasi Kiai kharismatik itu terbukti karya-karyanya banyak diterbitkan oleh perguruan tinggi terkemuka di daerah itu yakni Universitas Sriwijaya.

Previous Older Entries