KH Muhammad Zen Syukri: Simbol Eksistensi NU Sumatera Selatan

KH Muhammad Zen Syukri: Simbol Eksistensi NU Sumatera Selatan

KH MUHAMMAD ZEN SYUKRI

BUYA ZEN SYUKRI

Pengantar

Budaya besar akan melahirkan tokoh besar, selanjutnya tokoh besar akan melahirkan karya-karya besar. Palembang dengan kerajaan Sriwijayanya merupakan kerajaan besar dan pusat peradaban besar Nusantara pada abad VII masehi. Saat itu Sriwijaya menjadi pusat perdagangan dunia, juga menjadi pusat pengajaran Budha yang paling berwibawa. Demikian halnya pada masa Kerajaan Palembang Darussalam, hubungan Palembang dengan kerajaan Demak sangat erat, baik yang bersifat politik maupun budaya, perdagangan serta keagamaan, sehingga banyak ulama besar lahir pada periode itu dari Palembang. Apalagi mereka percaya bahwa raden Patah Raja Demak berasal dari Palembang dan masih banyak yang merasa sebagai keturunan sang raja itu. Ulama besar palembang antara lain Faqih Jalaluddin, Syihabuddin Abdullah, Syekh Muhyiddin lalu Syekh Kiemas Muhammad, dan yang paling terkenal hingga sekarang dana ajarannya masih terus diamalkan adalah Syaikh Abdushomad Al Palimbani (1704-1775).

Mereka semuanya adalah menganut Islam Sunni Syafii selain itu juga gigih menyebarkan Tarekat Samaniyah, sehingga memiliki pengikut yang cukup luas, tidak hanya di Palembang bahkan hampir di seluruh Sumatera. Tradisi bermazbah serta tarekat itu diajarkan secara turun menurun pada para ulama yang selama ini belajar di Mekah pada ulama Palembang yang bermukim di sana seperti KH Sahruddin, KH Abdul Aziz dan sebagainya. Kemudian juga dikembangkan oleh para ulama di pesantren setempat hingga sampai pada Kiai Zen Syukri yang masih ada sekarang ini. Ketokohan Kiai Zen Syukri tidak hanya dalam bidang agama, tetapi punya pengaruh yang sangat luas, baik secara social maupun politik, sehingga ia selalu menjadi tumpuan harapan para elite politik local maupun nasional.

Sebelum menjadi Presiden baik Abdurrahman Wahid, Megawati dan terutama Suisilo Bambang Yudoyono selalu meminta restu dan dukungan pada kiai sepuh Palembang itu, yang masing-masing punya ikatan historis tersendiri. Gus Dur karena Kiai Zen Syukri merupakan murid KH Hasyim Asy’ari kakenya, serta sebagai Musytasyar NU Palembang. Hubungan dengan Mega melalui Taufik Kiemas adalah sesama berasal dari Palembang sehinga, punya hubungan dekat. Sementara dengan SBY, karena selama ini SBY pernah menjadi Pangdam Sriwijaya yang bermarkas di Palembang, selama ini keduanya sudah menjalin kerjasama dalam menjaga ketertiban dan keamanan daerah.

 Luasnya pengarus itu tidak lain karena kaharisma yang dimiliki sang kiai, yang karena memiliki kualitas spiritual yang tinggi, intelektualitas yang matang, serta integritas moral yang kuat, juga pengabdian pada kepentingan agama dan masyarakat yang tak kenal lelah, sehingga mau melayani umat yang paling bawah hingga para pejabat, tanpa membedakan status dan jabatannya. Maka tidak aneh hingga sekarang ini dianggap tokoh paling dihormati, selain karena usianya yang paling tua juga keilmuannya paling terkemuka, terbukti dengan karya-karya pemikirannya yang sangat produktif, sebagaimana dilakuakan para ulama Palembang terdahulu. Masa Pembentukan.

Zen Syukri yang lahir pada 1919 itu hidup di lingkungan keluarga Islam santri yang tergolong kelas menengah Palembang pada zamannya, karena itu ia memperoleh pendidikan yang memadai, terutama dalam bidang agama. Walaupun keluarganya mampu menyekolahkan ke sekolah Belanda, tetapi orang tunya melarang sekolah dan mempelajari bahasa kolonial itu, akhirnya ia hanya belajar di madrasah Ibtidaiyah Hingga tamat Tsanawiyah pada tahun 1935. Setamat Tsanawiyah umunya masyarakat yang mampu, akan mengirim anaknya ke Mekah, demikian pula keinginan keluarga Zen, tetapi setelah dilakukan istikhoroh, ayahnya melarang kepergian anaknya ke Tanah Suci. Tentu saja Zen kecewa dan malu karena tetangga sudah terlanjur tahu rencana itu, bahkan tetangga menyindir gagalnya keberangkatan itu. Tetapi ayahnya menasehatkan bahwa belajar agama di mana-mana sama saja, toh nanti di Mekah akan berguru pada para ulama Nusantara juga.

Sementara di Indonesia sudah banyak ulama yang alim. Zen paham akan nasehat ayahnya, tetapi tidak bisa menutup telinga terhadap sindiran tetangganya, akhirnya tanpa sepengetahuan orang tua ia menjual sepeda untuk pergi merantau belajar agama. Pesantren yang dituju adalah Tebuireng Jombang, sebab ia pernah mendapatkan cerita dari gurunya yakni Syekh Muhamamad Salim Alkaf, seorang Rois Suriyah NU dan salah seorang pendiri NU Palembang, yang telah mengenal kebesaran pesantren itu.Dengan berbekal uang secukupnya itu ia naik kereta api ke Lampung kemudian menyeberang ke Batavia (Jakarta).

 Perjalanan yang begitu panjang itu dengan sendirinya menipiskan pesangon, sehingga terpaksa ia menjadi buruh di sebuah penerbitan sebagai pemotong koran. Perjalanan ke Jawa Timur dilanjutkan setelah memperoleh pesangon dari hasil kerja selama beberapa bulan. Tetapi ternyata sangu yang dimiliki hanya cukup untuk perjalanan sampai di Jawa tengah, tepatnya di daerah Tegal, akhirnya ia tidak membuang waktu lalu meneruskan belajar ke sebuah pesantren di daerah itu selama satu tahun yakni 1936.

Karena tujuan utamanya adalah pesantren Tebuireng maka selama nyantri di Tegal ia menjadi khadam kiai, selain itu juga sambil bekerja sebagai pembantu dan kuli, sebagai bekal untuk melanjutkan perjalanan ke Tebuireng. Setelah setahun di pesantren itu dan ketika perbekalan cukup, maka pada tahun 1937 ia berangkat ke Tebuireng, tetapi sesampai di pondok uang itu segera habis, akhirnya untuk melaksanakan cita-citanya belajar pada ulama alim ditempuh dengan cara mengabdi kepada kiai yaitu kiai Hasyim Asy’ari sebagai khodam (pelayan) yang mengurus rumah tangga dan menyiapkan pengajian Kiai.

Ternyata di sana juga sudah banyak khodam, tetapi kemauan Zen Syukri tetap diterima oleh Kiai Hasyim Asy’ari, dengan demikian cita-cita untuk mempelajari agama berhasil dilaksanakan. Ketika kebutuhan sehari-hari bisa diatasi, tetapi kebutuhan mendapatkan kitab masih harus ditanggung sendiri, sementara uang tidak pernah punya, akhirnya Zen mengakali dengan cara meminjam kitab lalu disalinnya dengan menggunakan tulisan tangan pada sebuah buku tulis. Dengan cara itu dua hal diperoleh, pertama mampu menulis dengan baik, kedua bisa memperoleh kitab dengan cara murah dan langsung bisa mendalami isi kitab. Bahkan ketika tidak lagi punya buku dan tinta, kitab temannya dipinjam untuk dihapal.

Kiai Hasyim dikenal sangat disiplin dalam mengajar, setiap hari ia berkomunikasi dengan bahasa Arab, tidak hanya dengan para kiai, tetapi dengan para puteranya juga menggunakan bahasa Quran itu. Demikian pula santri diwajibkan berbahas Arab, kalau melanggar dihukum gundul. Sebagai pendatang baru Zen Syukri, walupun telah menguasai bahasa itu secara pasif, tetapi belum mahir menggunakan dalam percakapan sehari-hari. Pada suatu ketika pernah ketahuan tidak berbahasa Arab ia langsung digunduli dan diarak keliling pesantren. Peristiwa memalukan itu yang membuatnya terpacu untuk mepelajari bahasa Arab lebih tekun. Dengan ketekunannya ia mendapatkan perhatian istimewa dari Kiai Hasyim, karena itu ia selalu diajak sang Guru untuk melakukan pengajian keliling di sekitar Jombang, sebagai pembawa kitab, serta membatu semua keperluan Gurunya.

Dari situ sebenarnya Zen banyak belajar, tidak hanya etika di pesantren, tetapi ketika sang guru melayani masyarakat, memberikan pengajian di masjid di pesantren lain atau ketika ketemu dan bermusyawarah dengan para kiai lainnya. Selain itu ia juga berguru kepada kiai yang lain yaitu Kiai Wahab Hasbullah dan Kiai Bisri Sansuri. Dengan cara belajar yang ekstensif yakni belajar dengan siapa saja di mana saja, dan sangat intensif, yakni dengan ketekunannya yang luar biasa, maka hanya dalam waktu tiga tahun ia telah berhasil menamatkan pengajian berbagai kitab dan sekaligus menguasai keilmuan yang dipelajari.

Akhirnya Kiai Hasyim rela melepaskan santri kesayangannya itu untuk kembali kekampung halaman tahun 1939, untuk mengembangkan ajaran ahlusunnah di daerahnya serta untuk turut menggerakkan NU di kawasan Sumatera itu. Selama melakukan pelepasan, pesan yang disampaikan Kiai Hasyim hanyalah sebuah peringatan. Namamu hanya Muhamamad Zen Syukri , tanpa gelar apa-apa , hanya gelar Abdullah (hamba Allah), yang patut diharapkan dari Allah.

Pesan itu hanya bisa dipahami dalam konteks kultur Palembang yang sangat hirarkis dengan gelar kebangsawanannya, sejak dari Kiemas, Kiagus hingga Masagus. Gelar yang berakibat membawa friksi social itu yang dicegah oleh Kiai Hasyim untuk dipakai, agar Zen Syukri bisa bergaul dan bekerja sama dengan semua pihak terutama rakyat kecil, tanpa batasan kelas dan derajat kebangsawanan yang ketat. Dengan tanpa gelar itu Zen Syukri bisa bergaul pada semua orang tanpa hambatan gelar kebangsawanan yang sebenarnya layak ia sandang. Berkiprah di daerah Sebagai kader ulama pesantren, maka ketika sampai kembali ke kampung halaman, yang dilakukan adalah bergabung dengan organisasi NU di Palembang.

Sebagai salah seorang santri Tebuireng apalagi sebagai murid Kiai Hasyim Asy’ari, maka ia mendapat posisi terhormat di pengurusan NU Palembang, yang dianggap telah mewarisi tradisi ke-NU-an yang memadai, karena itu walaupun usianya masih relatif muda yakni 21 tahun ia dikukuhkan sebagai sekertaris NU cabang Palembang. Dengan organisasi yang dikelolanya itu ia tidak hanya mampu menagajarkan ilmu agamnya, tetapi juga pengalaman berorganisasi selama di Tebuireng juga bisa diterapkan di daerahnya, sehingga NU Palembang terus-mencapai kemajuan. Maka pada tahu 1943 ia dipilih sebagai Ketua Tanfidziyah NU Cabang Palembang.

Sebagaimana gurunya, Kiai Hasyim Asy’ari, ia juga rajin mengadakan pengajian ke berbagai pelosok daerah, sebagai seorang murid Tebuireng ia menguasai Hadits dengan sangat baik, demikian juga ia banyak belajar ilmu taswawuf, sehingga dakwahnya diminati banyak orang. Walaupun ia tidak pernah belajar di Mekah tetapi keilmuannya dianggap masyarakat cukup mendalam dan disegani, sehingga pengikutnya juga sangat banyak. Kenyataan itu tidak bisa dipungkiri kalangan ulama senior Palembang termasuk para gurunya, Maka ia dipercaya menjadi kepala Perguruan Ahliyah pada tahun 1942.

Dengan dedikasi dan kedalaman ilmunya itu, maka pada tahun 1950 ia mendapat penghormatan sebagai pengajar di Masjid Agung Palembang, sebuah Masjid Peninggalan Kerajaan Palembang Darussalam, yang dalam menseleksi para kiai sangat ketat, sehingga tidak mudah seseorang bisa diterima sebagai pengajar di Masjid Agung tersebut kalau tidak benar-benar mumpuni keilmuannya. Di situ ia bertugas mengajaran fikih, tauhid dan terutama tasawuf, ini merupakan prestasi keulamaan yang besar yang capainya, sebab tidak sembarangan ulama bisa mencapai prestasi ini. Mesjid ini merupakan Warisan Kesultanan Palembang, sebagai pusat pengembangan Islam Ahlussunnah Waljamaah.

Akhirnya Zen Sayukri menjadi pemimpin tertinggi serta imam Masjid Agung itu hingga sekarang. Dengan demikian paham ahlusuunnah bisa terus dikembangkan. Dukungan yang diberikan kalangan ulama Sunni-Syafii serta para saudagar yang ada di kota itu pada NU sangat kuat, sehingga perkembangan NU di wilayah itu sangat pesat. Pesatnya perkembangan itu terbukti tidak lama kemudian Palembang sudah siap menyelenggarakan Muktamar NU yang ke 19 Bulan April tahun 1952 dengan hasil yang monumental, yakni keputusan keluarnya NU dari Masyumi dan berdiri sebagai partai tersendiri, setelah bertahun-tahun ditipu oleh kelompok intelektual dalam partai Islam itu. Dari situ kemudian NU menjadi partai politik tersendiri, yang dalam Pemilu 1955 menjadi salah satu partai terbesar ketiga bersama PNI, Masyumi dan PKI.

Penyelenggaraan acara itu cukup sukses berkat dukungan finansial dari para pengusaha NU setempat, sehingga para peserta sangat terkesan dengan perkembangan NU di wilayah itu. Keaktifan dalam mengkelola Masjid Agung itu tidak menghambat aktivitasnya di NU, bahkan karirnya terus menanjak dari Cabang menjadi pengurus NU Wilayah Sumatera Selatan. Kemudian terpilih menjadi pemimpin tertinggi NU di daerah itu sebagai Rais Syuriah NU Wilayah selama tiga periode yakni dari 1984 hingga 1999. Bahkan sempat terpih sebagai salah seorang Musytasyar PBNU, kemudian atas ketokohannya juga ia dipilih sebagai anggota MPR sebagai wakil daerah. Sampai sekarang masih menjadi Musytasyar NU Wilayah, mengingat keseniorannya, maka perannya di NU juga masih sangat besar.

Karena itu keberadaannya menjadi symbol eksistensi NU di daerah itu. Pergumulan Pemikiran Keagamaan. Sejak hadirnya Islam Wahabi Dunia tidak pernah tenang penuh dengan pergolakan pemikiran, sebab kelompok ekstrem itu selalu mengahalau pemikiran dan pemahaman agama Sunni-Syafii yang sudah mapan. Tidak terkecuali pergolakan yang dibawa para perantau dari Minagkabau tersebut juga berkobar di Palembang Hadirnya pemikiran Wahabi itu tidak pelak lagi mengguncang pemahaman keagamaan kaum Sunni Palembang, sehingga mereka juga banyak merespon dan menolak cara berpikir serta pemahaman yang puritan dan intoleran tersebut. Ajaran tarekat diserang habis-habisan, doa qunut serta talkin dianggab bid’ah, demikian juga dziba dan tahlil dilarang.

Seperti kaum Sunni pada umumnya masyarakat Islam Palembang menghendaki pemahaman agama yang toleran pada tradisi dan menghargai warisan para ulama klasik. Karena itu masyarakat sangat resisten terhadap cara pandang Wahabi karena dianggap tidak sesuai dengan alam Palembang yang harmoni, sesuai dengan tradisi yang telah berkembang yang ternyata membawa banyak kemaslahatan, sehingga gerakan Wahabi itu juga segera padam tersiram oleh air kehidupan masyarakat yang damai. Kaum Sunni mempertahankan pemahamannya bukan karena fanatisisme, tetapi semata ingin menciptakan toleransi dan suasana harmoni. Walaupun perdebatan itu terjadi sejak awal abad ke-19 namun riaknya kadang juga tersisa hingga beberapa waktu kemudian.

Terbukti pada saat Kiai Zen Syukri menerbitkan bukunya yang berjudul Risalah Tauhid, pada tahun 1962 yang mengungkapkan tentang pendirian tauhid mazbah Sunni Asy’ari, mendapat tantangan keras dai kelompok Wahabi. Bahkan penulis buku itu diajukan kemeja hijau, kemudian buku tersebut dilarang beredar, karena menyesatkan umat. Pada pengadilan itu Zen Syukri bisa berargumen sangat meyakinkan hingga tidak ada pilihan lain bagi pengadilan daerah kecuali memenangkan perkara akhirnya ia dibebaskan. Para penunut Wahabi tidak puas, lalu mengajukan ke pengadilan nasional, di situ Zen Syukri berhadapan dengan tokoh Muhammadiyah terkemuka seperti KH Farid Ma’ruf, Hamka, Sullam Hadi dan sebagainya. Tetapi sekali lagi pengarang murid Kiai Hasyim Asy’ari itu memenangkan perdebatan. Bahkan Hamka sendiri setelah mendengar akurasi dan kefasihan hujjah Kiai Zen Syukri, akhirnya ia mengakui kebenaran apa yang ditulis sang pengarang, sehingga perdebatan ditutup dengan kemenangan Zen Syukri. Akhirnya Menteri Agama KH Wahib Wahab dari NU, menetapkan keabsahan buku tersebut, melalui SK No. 1152/52/831/62. Akibatnya buku tersebut kembali bisa beredar luas, bahkan lebih diminati orang dibanding sebelum dihebohkan dan pengarangnya juga semakin tenar.

Hampir semua tulisan Kiai Zen Syukri berkaitan dengan persoalan fikih tauhid dan tasawuf, dan nada tulisannya lebih bersifat mendidik dan jauh dari aplogetik apalagi polemik. Karena merasa tidak ingin membuang waktu berdebat dengan kelompok Wahabi, sebaliknya hanya ingin membimbing umat. Bahkan beberapa tema sama dengan tema kaum Wahabi seperti Risalah Tauhid, Bahaya Syirik dan sebagainya. Hal itu menunjukkan bahwa kaum sunni walaupun toleran dengan adat dan tradisi masyarakat setempat, tetapi tetap menjaga keutuhan ajaran Islam, tidak seperti yang dituduhkan kalangan Wahabi yang menganggap kalangan Syafiiyah telah terjerumus pada perbuatan syirik ketika mengapresiasi tradisi.

Karena itu terbitnya buku Melepaskan Diri dari Bahaya Syirik tahun 1964 itu seolah membungkam cacian kelompok Wahabi bahwa NU melalui tarekat dan tahlil itu menyebarkan kemusyrikan. Karena perbedaan antara tauhid dan musyrik dipaparkan dengan jelas dalam bukunya itu.

Kiprah di Hari Tua

Kedalaman keilmuannya serta keuletan semangatnya, maka hingga dalam usia yang lanjut Kiai NU itu masih saja melakukan aktivitas keagamaan serta social. Setiap hari memberikan ceramah di berbagai tempat, dan khusus hari Ahad pagi memberikan pengajian umum di Masjid Agung Palembang, yang telah dilakukan sejak tahun 1950-an, tetap ditekuni hingga saat ini. Ceramah pagi itu dihadiri ratusan jemaah dari berbagai daerah, baik kalangan pejabat maupun rakyat biasa.

Selain itu setiap pagi dari jam 5 sampai jam 10 siang masih melayani umat yang sowan meminta petunjuk tentang berbagai persoalan kehidupan hingga soal kesehatan. Masyarakat setiap hari datang berduyun, mengantri didepan rumah menunggu nasehat sang Kiai. Biasanya pulang dibawai air putih yang telah didoai, terkadang mereka diberi tulisan doa tertentu yang harus dibaca agar persoalan yang dihadapi cepat selesai. Meraka datang tanpa di pungut biaya, terserah mau memberi semampunya. Kalau membeli sesuatu seperti buku yang dikarang oleh sang kiai baru diharuskan membayar.

Layanan social yang diberikannya itu membuat sang Kiai menjadi tokoh yang dekat dan disegani masyarakat dan menjadi panutan mereka. Oleh karena itu tidak satupun politisi local yang ingin memperoleh kekuasaan tanpa merebut legitimasi darinya, sejak dari Abdurrahman Wahid, Megawati maupun Susilo Bambang Yudoyono. Apalagi para politisi local yang ingin meraih jabatan di daerah restu Kiai sepuh itu sudah menjadi keharusan yang tidak pernah mereka tinggalkan. Bahkan para pejabat militer yang ditugaskan di situ baik Komandan Kodim, Komandan Korem atau Pangdam selalu terlebih dulu sowan kepada ulama asli Palembang itu untuk meminta restu. Kalangan perguruan tinggi juga sangat menghormati preastasi Kiai kharismatik itu terbukti karya-karyanya banyak diterbitkan oleh perguruan tinggi terkemuka di daerah itu yakni Universitas Sriwijaya.

5 Komentar (+add yours?)

  1. azim amin
    Feb 03, 2010 @ 15:14:58

    semoga abuya tetap sehat, beliau menghadiri mu’tamar NU, Situbondo, namun tidak sampai selesai, karena akan rapat di Palembang, saya terkenang saat bersama beliau dari Asem Bagus ke Surabaya, sepanjang perjalanan dalam bus, banyak nasehat kepada saya. Lalu saya kembali ke Asembagus, Situbondo, karena ortu juga; Ki.H.M.Amin, Kiyai H. Mahasan (mertua Pak Ma”an), Kiyai Mattjik Akhir, dan lainnya ikut mu’tamar pula hingga selesai, dan terpilihlah Gusdur.

    Balas

  2. Mukti
    Jul 06, 2010 @ 12:37:53

    Amiin..

    Balas

  3. Rendra Pasmawan
    Jan 21, 2011 @ 20:21:53

    Saya selalu mendoakan smoga Abah tetap sehat dalam mendidik para muridnya. Salam saya untuk Abah karena Alhamdulillah berkat didikkan Abah sewaktu saya belajar di pengajian Abah di letnan Yasin palembang saya mengerti akan ilmu tarekat walaupun saya sekarang berada di Pulau Kalimantan tetapi saya terus mempelajari Buku-buku Karangan Abah.

    Balas

  4. wendi hendra
    Agu 01, 2011 @ 21:55:03

    saya butuh alamat dan nomor tlp pak kh zein syukri buat kita datangkan ke bengkulu dalam tablig akbar ramadhan

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: