Belajar dari Film

BELAJAR TASAWUF DARI FILM MATRIX

Dari tulisan :Aina Al Qalby

Bismillahi Ar-Rahmaani Ar-Rahiimi

The Oracle.

Ini bukan nama perusahaan software. Ini adalah nama seorang wanita tua di dunia Matrix. Ia hanyalah seorang tukang masak kue, gemuk, negro, perokok, tingal di sebuah apartemen kelas bawah dan memiliki beberapa murid anak kecil. Di film itu pun, ia hanya muncul sekali. Dengan percakapan yang sederhana, dan mengalir begitu saja. Sama sekali tidak tampak kelebihan dalam dirinya. Tapi dialah sosok mursyid di film ini. Saya terus terang agak heran, bagaimana film ini bisa bercerita demikian detil. Termasuk penggambaran sosok mursyid yang demikian akurat. Sehingga bila kita ingin mengetahui, seperti apa sih Mursyid itu? Bagaimana dia membimbing kita? Kita bisa mempelajari figur The Oracle. Waktu di lift menuju ruangan The Oracle, Neo dan Morpheus sudah bercakap-cakap dengan menarik. Neo: “Apakah Oracle ini adalah Oracle penubuwwah” Morpheus: “Ya, dia sangat tua. Dia sudah mengiringi kita sejak awal perlawanan (thd Matrix)” Neo: “Apa yang dia tahu? Segalanya?” Morpheus: “Dia akan berkata, bahwa dia mengetahui secukupnya.” Neo: “Dan dia tak pernah salah?” Morpheus: “Cobalah untuk tidak berpikir benar atau salah. She is a GUIDE, Neo. Dia dapat membantu kita untuk menemukan ….” Neo: “Dia menolongmu?” Morpheus: “Ya”. Neo: “Apa yang dikatannya padamu?” Morpheus: “Bahwa aku akan menemukan The One” Memang bila kita berhadapan dengan seorang mursyid, kita perlu menanggalkan sejenak parameter-parameter kita ttg benar dan salah. Karena itu bisa memerangkap kita. Kita ini seperti orang buta, sementara dia tidak buta. Bagaimana mungkin kita bisa menghakimi ceritanya ttg gajah? Sang mursyid pun, tidak akan mengajarkan kepada kita hukum-hukum kebenaran atau kesalahan. Dia hanya membimbing, agar kita dapat mengenali kebenaran. Dia akan berusaha untuk menjadikan setiap kita sebagai aktor utama dalam kehidupan ini. Selanjutnya Neo pun memasuki apartement Oracle dan menemukan banyak anak kecil yang sedang asyik bermain-main dengan ‘karomah’-nya. Ada yang main kubus yang seolah tak terikat hukum gravitasi. Ada pula yang sedang asyik membengkokkan sendok hanya dengan pikiran. Dikatakan, bahwa mereka adalah calon-calon potensial untuk menjadi The One. Saya lewati ini karena akan jadi tulisan terpisah. Setelah menunggu sejenak, Neo pun diundang untuk ke dapur menemui Oracle. Dia ternyata sedang asyik masak kue. Neo: “Apakah anda The Oracle?” The Oracle: “Binggo, tidak seperti yang kamu sangka bukan? Aku akan mempersilahkan kamu duduk, tapi jangan khawatir terhadap vas bunga itu” Neo: “Vas yang mana?” Ternyata kemudian Neo menyenggol vas bunga yang ada di sampingnya, hingga jatuh dan pecah. Kemudian Oracle berkata, “Vas yang itu.” Neo pun gugup, “I’m sorry…” The Oracle: “Sudah aku katakan jangan khawatir terhadap vas itu. Bagaimana kita bisa merubah sesuatu yang sudah ditetapkan?” Saya paling senang dengan adegan ini,saya geli melihat bagaimana cara seorang mursyid menunjukkan siapa dirinya. Karena Neo pada saat itu agak ragu, melihat Oracle yang seperti itu. Tapi yang membuat saya menyimpulkan Oracle lah sang Mursyid justru percakapan berikutnya yang saya sarikan sbb. The Oracle: “Kamu tahu mengapa Morpheus membawamu ke sini?” Neo pun mengangguk. The Oracle: “So… what do you think? Do you think you are The One?” Neo: “Honestly, I don’t know” The Oracle: “Aku akan beritahu kamu suatu rahasia. Menjadi The One adalah seperti jatuh cinta. Tak ada yang bisa memberitahumu, melainkan kamu sendiri yang tahu. So… you ready to know.” Neo: “Know what?” The Oracle: “That I’m going to tell you…” Neo: ” I am not The One” Begitulah sang Mursyid. Dia tahu apa yang terbaik buat saliknya. Oracle tahu, bahwa informasi Neo adalah The One telah membelenggu jiwanya. Sehingga tanpa sadar dia merasa spesial. Makanya Oracle mematahkan anggapan tsb dengan kalimat-kalimatnya yang menuntun. Neo sendirilah yang menyimpulkan bahwa dia bukan The One sebagaimana diyakini Morpheus. Dan kesimpulan ini penting bagi Neo, agar dalam menemukan kesejatiannya, tidak terhambat oleh pandangan dan sikap orang lain. Meski berhak untuk memandangnya seperti itu. Dan lepasnya ia dari belenggu faham The One, terbukti kemudian bisa membuatnya mengambil keputusan penting. Yaitu siap berkorban untuk menyelamatkan Morpheus. Mursyid pun membimbing saliknya secara personal. Dia tampil beda bagi setiap saliknya, sesuai dengan yang dibutuhkan bagi perjalanan sang salik. Seperti kata Morpheus setelah Neo keluar dari dapur, “Ingatlah, apa saja yang dikatakan Oracle itu hanya untukmu sendiri” Mursyid bukan ustadz, muballigh atau da’i. Bimbingannya tidak dibatasi oleh podium, pengajian maupun tulisan/buku. Meski saliknya bisa ribuan jumlahnya, dia mampu membimbing mereka secara person to person. Tentu dengan caranya. Sebagaimana Rasulullah Muhammad saw yang menjadi milik setiap sahabatnya. Ya… begitulah interaksi salik-mursyid-salik di dunia tasawuf. Kepada Morpheus, Oracle berkata bahwa Morpheus akan menemukan The One. Dan dalam proses pencariannya selama bertahun-tahun, akhirnya Morpheus menemukan Neo, yang amat diyakininya sebagai The One. Oracle tak pernah menunjukkan langsung kepada Morpheus siapakah The One, dia hanya membimbing. Adalah suatu pencapaian bagi Morpheus ketika menemukan Neo The One. Keyakinan ini penting bagi Morpheus untuk melakukan tugasnya. Kepada Neo, Oracle memandu agar Neo yakin, bahwa dia bukan siapa-siapa. Karena keyakinan ini penting bagi Neo untuk melaksanakan tugasnya sebagai The One. Kepada Trinity, Oracle mengabarkan, bahwa ia akan jatuh cinta kepada The One. Trinity tampaknya tipikal wanita yang susah jatuh cinta, mungkin saking pintarnya (hackerwati). Sehingga bagi Trinity dasar keyakinannya adalah, siapakah yang bisa membuatnya jatuh cinta. Itulah The One.

IT S DIFFERENT BETWEEN KNOWING THE PATH AND WALKINGPROSES.

Dipikir-pikir, sebenarnya kita rugi besar kalau tak terbiasa menghayati proses. Justru nikmatnya hidup itu, adalah ketika munculnya kesadaran akan proses tsb. Saya bahkan sedang curiga, bahwa surga itu sebenarnya ya proses itu. Kita mungkin sudah amat terbiasa berfikir akan pencapaian. Bila kita baca sirah nabawiyyah, yang kita tangkap adalah kemuliaan dan kebesaran Baginda Rasulullah Muhammad saw beserta keluarbiasaan para sahabatnya. Bagaimana mulianya akhlaq Rasulullah saw. Bagaimana adilnya beliau kepada istri-istrinya. Bagaimana beliau bisa hadir secara personal di setiap hati para sahabatnya. Bagaimana belau bisa mencetak para sahabatnya menjadi pribadi-pribadi luar biasa. Dan bagaimana pula pribadi-pribadi luar biasa itu berkiprah dalam sejarah Islam. Bila kita membaca sejarah Islam, yang kita tangkap adalah masa-masa keemasan peradaban Islam. Betapa dulu, Islam dipenuhi dengan orang-orang hebat, jenius, revolusioner sekaligus mulia akhlaqnya. Itulah yang kita tangkap. Akibatnya, kini kita seperti memandang bintang-bintang di langit. Tak terjangkau. Hanya bisa berharap (sambil ragu) akan kembalinya masa-masa itu. Di satu sisi kita (berusaha) untuk yakin dengan janji Allah, di lain sisi kita menemukan fakta betapa jauhnya kita. Pola Hollywood, di mana segalanya berakhir happy end, adanya figur-figur sentral yang dominan, dan remehnya figur-figur lain di sekelilingnya, mungkin terlalu melekat di benak kita. Sehingga mempolakan model kehidupan tsb dalam diri kita. Semua kita bersaing untuk menjadi yang “ter”. Padahal surga akan kita raih ketika kita menjadi diri kita sendiri. Kita jadi kurang menghargai proses. Terlalu terbiasa memandang bintang, padahal bintang itu juga ada dalam qolb kita. Padahal kalau kita menghargai proses dan mensyukurinya, maka seperti kata Allah, “Sesungguhnya jika kamu bersyukur, pasti Kami akan menambah (nikmat) kepadamu, dan jika kamu mengingkari (nikmat-Ku), maka sesungguhnya azab-Ku sangat pedih”. (QS. 14:7) Menghayati dan menikmati proses, itulah syukur. The Matrix pun bercerita ttg Neo yang berproses. Dari seorang yang terlelap di dunia Matrix, kemudian menjadi seorang hacker, kemudian memilih mempercayai Morpheus dan akhirnya meminum pil merah dan terbangun dari mimpinya. Setelah hidup di alam real (Nebuchadnezar) pun, Neo masih terus berproses. Mengikuti training simulation, meraih pengetahuan dari The Oracle dan muridnya, dan kemudian mengamalkan pengetahuan tsb. Bahwa Neo adalah The One, dia berproses dari * Sekedar waham (persangkaan). * Kemudian peruntuhan waham tsb (peng-nol-an). * Beramal sholeh sebagai The One. Pada posting terdahulu, sudah terjelaskan proses yang terjadi pada point 1 dan 2. Dimana proses peng-nol-an terjadi. Proses peng-nol-an ini adalah kunci, yang bila dilakukan akan menampakkan hakikat diri seseorang. Dalam tasawuf, dikenal dengan istilah fana. Bayangkan saja sebuah studio rekaman, di mana semua komponen lagu seperti vokal, suara gitar, suara synthesizer, suara perkusi, dsb, direkam terpisah untuk meudian di mix (dicampur) ke dalam satu pita rekam tunggal. Bila kita ingin mengidentifikasi mana di antara itu semua suara yang datang dari cymbal, tinggal kita nolkan semua suara selain cymbal. Tentu ini semua hanya bisa kita lakukan di studio rekaman. Selagi kita masih berupa kaset, jangan berharap. Sewaktu akan menyelamatkan Morpheus, Neo sudah sampai pada point 2. Dia sudah menyadari, bahwa baginya dia itu bukan siapa-siapa. Dan dalam kondisi seperti itu, ternyata ia mampu menyelamatkan Morpheus. Padahal langkah tsb, bagi Tank dan Trinity adalah langkah bunuh diri. Neo bisa berbuat seperti itu karena dia beramal dalam kondisi nol (fana). Dan karena Neo memang sejatinya adalah The One, maka ketika dia fana muncullah sosok The One dalam dirinya. Itulah adegan penyelamatan Morpheus. Dan di akhir adegan ini ada kalimat Morpheus yang penting sekali bagi kita. Waktu Neo ingin memberitahu, bahwa dari Oracle dia mengetahui bahwa dia itu bukan siapa-siapa, Morpheus menyela, “She told you exactly what you need to hear. That’s all. Neo, sonner or later you going to realize it.

IT’S DIFFERENT BETWEEN KNOWING THE PATH AND WALKING”

DARI tulisan seseorang yang ngga mau disebut nya karena ngga tau siapa dia tau2 dah ada aja di mail saya,yah iseng2 posting aja semoga bermanfaat dan maaf bagi para salik kalau tulisan ini membuat anda2 berdecak garang,tiada maksud ingin menggurui dan tiada maksud buat menghina karena ini sekilas fenomena.

1 Komentar (+add yours?)

  1. frans
    Okt 01, 2010 @ 09:52:02

    analisa yg luarbiasa…………

    Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: